Probolinggo (beritajatim.com) – Krisis jumlah murid terus membayangi SDN Warujinggo 2 yang terletak di Dusun Triwung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. Selama dua tahun ajaran terakhir—2023/2024 dan 2024/2025—tak ada satu pun siswa baru yang mendaftar di sekolah dasar negeri tersebut.
Kondisi ini membuat sekolah yang pernah ramai di masa lalu kini seperti kehilangan denyutnya. Kepala SDN Warujinggo 2, Indrati Susilo, mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk menjaring siswa baru, mulai dari memberikan seragam gratis hingga menyambangi rumah warga dan taman kanak-kanak di sekitar.
“Kami sudah menyambangi warga, bahkan menawarkan fasilitas gratis, tapi tetap tak ada murid baru. Seperti hidup segan mati tak mau,” ujarnya, Jumat (18/7/2025).
Saat ini, SDN Warujinggo 2 hanya memiliki 15 siswa aktif yang tersebar di kelas 3, 4, dan 6. Kelas 1, 2, dan 5 tidak memiliki murid sama sekali. Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berjalan dengan didukung empat guru dan satu kepala sekolah.
Ruang-ruang kelas yang kosong dan sepi menghadirkan suasana muram. Indrati menjelaskan bahwa penurunan jumlah siswa sudah mulai terasa sejak tahun 2012 dan terus berlanjut secara perlahan.
“Dulu setiap tahun masih ada yang daftar meski sedikit, tapi dua tahun terakhir ini benar-benar kosong. Ini jadi beban psikologis tersendiri bagi kami tenaga pendidik,” tambahnya.
Fenomena ini disinyalir berkaitan dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah sekitar yang dinilai lebih religius. Selain itu, kemudahan transportasi membuat orang tua memilih menyekolahkan anak mereka ke SD negeri di pusat kota.
Susi, salah satu guru senior di SDN Warujinggo 2 yang telah mengabdi lebih dari satu dekade, menyatakan bahwa perubahan pola pikir masyarakat sangat memengaruhi kondisi sekolah.
“Orang tua sekarang banyak pilihan. Sekolah kami jadi tidak lagi diprioritaskan,” jelasnya.
Meskipun mengalami krisis murid, semangat belajar tetap terlihat dari para siswa yang masih bertahan. Alvin (10), siswa kelas 4, mengaku senang belajar di sekolah yang letaknya dekat dengan rumah.
“Sekolahnya enak, bu guru baik. Teman-teman walau sedikit, tapi kami sudah seperti saudara,” katanya. [ada/beq]






