Magetan (beritajatim.com) – Sebuah video menampilkan puluhan orang berpakaian putih-putih mengelilingi tugu Trianggulasi di puncak Gunung Lawu menghebohkan warganet setelah beredar luas di TikTok. Aksi yang terekam pada Jumat (12/7/2025) siang itu menuai berbagai reaksi. Ada yang menganggapnya sebagai bagian dari ritual spiritual di bulan Suro, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan identitas dan maksud kelompok tersebut.
Pihak pengelola jalur pendakian melalui Basecamp Cemoro Sewu memberikan klarifikasi. Ilham Budi Raharjo selaku pengelola menjelaskan bahwa di momen Suro memang kerap ditemukan pendaki yang melakukan aktivitas spiritual di kawasan Gunung Lawu. Namun, penampilan seperti yang tampak dalam video tersebut baru kali ini terlihat. Ia menyebut bahwa rombongan itu tidak mendaki dengan pakaian putih-putih sejak dari bawah, sehingga tidak terdeteksi oleh petugas.
“Kalau dari momen Suro ini memang banyak yang melakukan ritual di Gunung Lawu. Jadi naiknya itu tidak memakai seragam putih-putih dari bawah, jadi kita juga tidak bisa deteksi. Selama tidak menyalahi aturan dan kearifan lokal, silakan saja,” ujar Ilham saat ditemui di basecamp.
Saat ditanya mengenai asal rombongan, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti. Menurut pengalamannya, pendaki dengan tujuan spiritual seperti itu umumnya berasal dari berbagai daerah, seperti Purwodadi dan Wonogiri. Namun soal identitas spesifik kelompok dalam video tersebut, pihaknya tidak memiliki informasi.
Ilham menambahkan bahwa fenomena seperti ini baru ditemukan tahun ini. Dalam video, tampak sejumlah orang hanya berada di sekitar tugu, ada yang berdiri, duduk, hingga mengambil foto. Meskipun tidak mengelilingi tugu dalam formasi tertib, keberadaan mereka tetap menarik perhatian karena keseragaman pakaian dan suasana yang berbeda dari biasanya.
“Kalau yang seperti itu, baru tahun ini kita temukan. Dari video, terlihat seperti berputar-putar di sekitar tugu, ada yang foto-foto, duduk, tapi tidak mengelilingi secara resmi. Kami juga tidak bisa menjelaskan maksud dari kepercayaan yang mereka anut karena itu mungkin berasal dari keyakinan tertentu,” jelasnya.
Ilham memastikan bahwa kejadian itu berlangsung pada Jumat siang, dan masuk dalam rangkaian momen Suro yang memang ramai oleh pendaki dengan berbagai maksud, termasuk aktivitas spiritual. Ia menegaskan bahwa selama pendaki tidak merusak lingkungan atau membuat gaduh, pihaknya tetap memberikan ruang bagi ekspresi keyakinan dengan tetap mengedepankan toleransi.
Gunung Lawu sendiri dikenal sejak lama sebagai salah satu titik spiritual penting di Jawa. Tradisi kejawen, laku tapa, hingga ziarah masih hidup hingga kini. Maka tidak mengherankan jika aktivitas seperti ini muncul, meski dalam bentuk dan tampilan yang berbeda dari sebelumnya. Penyebaran video tersebut di media sosial turut memperluas perhatian publik, baik dalam konteks budaya maupun keagamaan.
Pengelola pun mengajak seluruh pendaki untuk tetap menghormati segala bentuk kegiatan spiritual yang berlangsung secara damai, serta menjaga ketertiban dan kelestarian kawasan yang memiliki nilai sakral bagi sebagian masyarakat. [fiq/aje]






