Malang (beritajatim.com) – Tidak semua cerita sukses bisnis kopi bermula dari kafe Instagramable atau mesin espresso mahal. Kopi Setunggal Nusantara, justru hadir dari jalur berbeda: kaki lima.
Dimulai dari warung sederhana pada 2013, Kopi Setunggal Nusantara kini berevolusi menjadi jaringan gerobak kopi premium yang menjajaki pasar mahasiswa dan pekerja urban. Dalam sebulan, omzetnya bisa menembus 5.000 gelas.
Di balik inovasi ini, ada sosok Mohammad Nur Faizi Masyhuri, yang akrab disapa Mas Pa’eng, manajer Kopi Setunggal Nusantara. Dengan logat khas dan kejujuran sederhana, ia menuturkan perubahan gaya hidup anak muda jadi alasan utama Setunggal Nusantara bermetamorfosis.
“Dulu pelanggan datang ke warung kopi. Sekarang kami yang datang ke pelanggan. Anak-anak Gen Z suka ngopi sambil kerja di kamar atau di kantor. Maka kami bikin gerobak, biar kopi bisa temani mereka di mana saja,” ujar Pa’eng saat berbincang dengan beritajatim.com, Kamis (10/7/2025).
Transformasi Kopi Setunggal Nusantara bukan tanpa alasan. Dengan pasar yang semakin dinamis, terutama dari kalangan Gen Z dan pekerja urban, mereka menyadari bahwa konsumen kini lebih memilih kenyamanan. Tak semua punya waktu datang ke coffee shop. Maka, strategi “gerobak jemput bola” pun diterapkan.
“Anak-anak sekarang nggak sempat ke kafe. Kami bawa kopi ke kampus, ke sekolah, ke perkantoran. Di Malang saja ada delapan gerobak. Kami sesuaikan titiknya. Ada di Jalan Bandung buat anak sekolah, Jalan Veteran untuk mahasiswa, hingga area perumahan elit seperti Griyasanta,” jelas Faizi.
Gerobak ini beroperasi enam hari dalam sepekan, dengan jam operasional yang menyesuaikan ritme keramaian. Pagi hari menyasar pekerja kantor, siang hingga sore untuk pelajar dan mahasiswa yang baru keluar kelas.
Dari Warung ke Jalanan, Lalu Menyasar Kos dan Kantor
“Sekarang jumlahnya di Malang ada 8 gerobak. Di Jombang ada 3. Jadi totalnya 11 gerobak” ujar Pa’eng.
Gerobak Kopi Setunggal Nusantara kini tersebar di delapan titik strategis di Malang. Lokasinya tidak sembarangan. Ada yang menyasar pelajar, seperti di sekitar Jalan Bandung, ada yang untuk mahasiswa di kawasan Jalan Veteran, dan ada juga yang menyasar pekerja kantoran di daerah Teluk Gomas atau kompleks perumahan elit seperti Griyasanta.
“Pagi itu pasarnya pekerja. Siangnya anak sekolah, sore ke mahasiswa. Kita pelajari ritmenya. Jadi titik dan jamnya kami atur agar sesuai keramaian,” jelas Pa’eng.

Konsepnya sederhana tapi efektif, tidak semua orang sempat ke coffee shop, jadi Kopi Setunggal Nusantara yang mendatangi mereka. Dalam sehari, satu gerobak bisa menjual 20 – 40 gelas kopi. Bila dikalikan jumlah armada, total penjualan bisa menembus ribuan gelas per bulan.
Yang membedakan Kopi Setunggal dari gerobak lain adalah bahan bakunya. Bukan kopi instan atau kopi esens, melainkan bubuk kopi asli produksi sendiri. Sejak 2013, Setunggal telah memproduksi kopi dari daerah Dampit, Malang, yang kini juga dipakai oleh banyak kafe besar di dalam dan luar kota.
“Kita nggak pakai susu kental manis. Susunya murni, gulanya pakai gula aren. Jadi meskipun gerobak, kualitasnya premium,” tegas Pa’eng.
Bahkan varian standar seperti kopi susu sudah menggunakan bahan yang kekinian tanpa embel-embel. Mereka tak perlu membuat “kopi gula aren” sebagai menu khusus, karena sejak awal sudah memakai bahan tersebut.
Tantangan Jalanan: Satpol PP, Cuaca, dan Regulasi Abu-abu
Berjualan di pinggir jalan tentu tidak lepas dari tantangan. Faizi tak menutupi dinamika yang kadang terjadi antara pedagang dan petugas ketertiban. Beberapa titik seperti Jalan Ijen dan Veteran termasuk area rawan penertiban.
“Ya kadang drama juga, surat peringatan itu biasa. Kami sudah tahu cara ‘kabur’ kalau Satpol PP datang. Tapi ini ikhtiar mas, kami cuma jualan,” ujarnya sembari tertawa.
Selain itu, kondisi cuaca juga jadi ujian. Tim gerobak Setunggal dibekali jas hujan, pelindung mesin, dan strategi teknis lainnya agar tetap bisa berjualan meski hujan mengguyur.
Pelanggan Loyal dan Misi Sosial Ramadhan
Di tengah kesibukan menjalankan roda usaha, Kopi Setunggal tetap menjaga hubungan dengan pelanggan loyal. Mereka membagikan bonus dan kartu member sebagai bentuk apresiasi. Bahkan, Ramadan kemarin, mereka sempat mengadakan program berbagi kepada masyarakat sekitar.
Namun bagi Pa’eng, penghargaan paling berkesan tetap datang dari pelanggan. “Momen paling berharga itu kalau ada review jujur, apalagi yang positif. Tapi kalau ada kritik juga nggak masalah, itu bahan evaluasi. Yang penting, kami tahu apa yang perlu diperbaiki,” ungkapnya.
Nama “Setunggal” sendiri bukan hanya identitas merek, tapi juga doa. Pa’eng berharap bahwa ke depan, usaha ini bisa tumbuh jadi entitas bisnis nasional yang dikenal luas.
“Kopi Setunggal Nusantara ini semoga bisa jadi Setunggal Indonesia. Jadi nggak cuma di Malang. Siapa tahu nanti bisa jualan juga di Jakarta, Kalimantan, Bali… Kami sudah punya mimpi itu,” katanya.
Inovasi pun terus dirancang. Pa’eng menegaskan bahwa setiap tahun mereka mencoba menawarkan sesuatu yang baru baik dalam varian rasa, model penjualan, hingga kolaborasi dengan UMKM lokal.
Bagi kita, Kopi Setunggal bukan sekadar cerita tentang bisnis FnB. Ia adalah simbol daya juang UMKM lokal yang mampu beradaptasi dengan tren, tantangan regulasi, dan perubahan selera. Di tangan Mas Pa’eng, kopi tak lagi sekadar seduhan, tapi cara untuk hadir dalam hidup keseharian pelanggan bahkan saat mereka tak sempat mampir ke kafe. [dan/beq]






