Surabaya (beritajatim.com) – Jutaan siswa di Indonesia bersiap untuk memulai perjalanan mereka di sekolah baru melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), seiring dimulainya tahun ajaran 2025/2026.
Menurut Pakar Pendidikan Jawa Timur, Isa Anshori, MPLS berperan penting dalam membentuk karakter siswa, terutama untuk menanamkan kepedulian dan empati yang kini menipis di masyarakat. Sekolah diharapkan menjadi tempat utama bagi penanaman nilai-nilai tersebut. “Yang dibutuhkan adalah kemampuan berempati bagi anak,” kata Isa, Kamis (10/7/2025).
Isa menginginkan, saat MPLS siswa tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan sekolah tetapi juga diarahkan untuk mendalami dan mempraktikkan nilai-nilai sosial yang krusial. Ini mencakup saling menghargai, memahami perbedaan, dan yang terpenting, belajar untuk berempati.
“Penanaman nilai empati secara mendalam akan membantu siswa membangun fondasi karakter yang kuat dan menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif serta suportif,” terang Isa.
Rendahnya rasa empati siswa memicu banyaknya perilaku negatif dan kekerasan di sekolah. Oleh karena itu, Isa menegaskan perlunya menanamkan pendidikan nilai empati di semua jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA.
“Kalau empati dibangun sejak awal, itu akan terbawa dalam proses belajar. Anti kekerasan itu wajib, tapi tidak cukup. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah kemampuan berempati bagi anak,” ucap Isa.
Selain itu, Isa mengungkapkan bahwa penting bagi pihak sekolah untuk menggandeng orang tua atau wali siswa dalam kegiatan MPLS. Hal ini dapat diwujudkan, misalnya, melalui penyelenggaraan masa orientasi khusus bagi orang tua sebagai bentuk kolaborasi dalam pengawasan anak.
“Akan lebih menarik lagi kalau masa orientasi itu tidak hanya untuk siswa, tapi juga disusul dengan masa orientasi orang tua. Setelah anak-anak berproses dalam belajar satu-dua minggu, orang tua diajak ngobrol,” jelasnya.
Dengan melibatkan orang tua dan membekali siswa dengan nilai-nilai empati sejak awal, MPLS ini bisa menjadi pondasi kuat untuk membentuk karakter anak di masa depan. “Tanggung jawab pendidikan itu sejak awal adalah tanggung jawab bersama, antara sekolah dan tanggung jawab orang tua,” pungkasnya.[kun]






