Jakarta – Apple kembali menghadapi pukulan berat dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatannya. Salah satu insinyur kunci mereka, Ruoming Pang, resmi meninggalkan perusahaan pada Senin (7/7) untuk bergabung dengan Meta Platforms.
Pang sebelumnya memimpin tim foundation models Apple yang menjadi tulang punggung riset AI raksasa teknologi tersebut.
Menurut laporan Bloomberg, Pang direkrut Meta untuk bergabung dengan tim superintelligence terbaru mereka. Meta dikabarkan menawarkan paket kompensasi fantastis, senilai puluhan juta dolar AS per tahun, sebagai bagian dari strategi agresif CEO Mark Zuckerberg untuk membajak talenta terbaik dari para pesaing di bidang AI.
Tantangan Internal Apple
Kepergian Pang menambah daftar masalah internal Apple, khususnya di divisi AI. Tim foundation models yang beranggotakan sekitar 100 insinyur dilaporkan sempat frustrasi dengan wacana Apple menggandeng pihak ketiga untuk mengembangkan teknologi AI Siri.
Beberapa insinyur menganggap langkah tersebut sebagai bentuk kurangnya kepercayaan terhadap kemampuan internal mereka.
Selain Pang, Apple baru saja kehilangan peneliti senior Tom Gunter yang hengkang setelah delapan tahun bekerja di perusahaan. Tim MLX, yang bertanggung jawab atas pengembangan kerangka kerja machine learning Apple, bahkan sempat mengancam mundur massal sebelum akhirnya bertahan usai mendapat tawaran balasan.
Sementara itu, Apple juga membatalkan pengembangan Swift Assist, alat pemrograman berbasis AI, demi memprioritaskan integrasi model pihak ketiga ke Xcode.
Industri AI yang Makin Kompetitif
Langkah Pang berpindah ke Meta mencerminkan tantangan lebih besar bagi Apple dalam mempertahankan talenta AI.
Di tengah perang talenta yang semakin memanas, Apple dinilai kalah bersaing dalam hal inovasi maupun kompensasi. Pendekatan agresif Meta bahkan menuai kritik dari beberapa pihak. CEO OpenAI, Sam Altman, sempat menyebut strategi perekrutan tersebut sebagai langkah yang “tidak menyenangkan”.
Apple sendiri kini disebut sedang mempertimbangkan kerja sama dengan Anthropic atau OpenAI untuk mendukung peningkatan Siri pada 2026 mendatang. Hal ini menjadi penyimpangan dari kebijakan tradisional Apple yang selalu menjaga kendali penuh atas pengembangan perangkat keras maupun perangkat lunaknya, terutama terkait privasi dan pengalaman pengguna.
Ke depan, tantangan Apple untuk mengejar ketertinggalan di bidang AI diperkirakan akan semakin berat, apalagi dengan hengkangnya figur-figur kunci seperti Ruoming Pang di tengah ketatnya kompetisi talenta global. (ted)






