Mojokerto (beritajatim.com) – Sentra kerajinan perak di Desa Batangkrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto masih bertahan meski permintaan pasar terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025 ini, para pengrajin mengaku order sepi dan penjualan lesu, jauh berbeda dengan masa kejayaan pada dekade 1990-an.
Desa Batangkrajan sejak lama dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan perak legendaris di Kabupaten Mojokerto. Keahlian mengolah logam mulia ini diwariskan turun-temurun. Namun tradisi tersebut kini menghadapi tantangan besar, mulai dari dampak krisis ekonomi, fluktuasi harga material, hingga minimnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha kerajinan.
Salah satu pengrajin perak, Suwanta, mengingat betul masa keemasan industri ini pada era 1990-an. Saat itu, hampir seluruh warga lebih memilih menjadi pengrajin daripada bekerja di pabrik. “Tahun 1990 karena banyak pengrajin, tidak mau kerja pabrik tapi ke kerajinan perak semua,” ujarnya, Sabtu (5/7/2025).
Namun hantaman krisis moneter (krismon) pada 1998 menjadi awal keterpurukan industri kerajinan perak Batangkrajan. Sejak itu, jumlah pengrajin terus menurun drastis. Kini, hanya tersisa sekitar 20 orang pengrajin yang dianggap sudah cukup bagus untuk kondisi saat ini. Fenomena serupa juga terjadi di Bali yang selama ini menjadi pasar utama produk kerajinan perak Mojokerto.
“Tahun 2025 penjualan kerajinan perak sepi, order sepi. Sekarang masih ada 20 orang pengrajin sudah termasuk bagus. Bahkan di Bali, para pengrajin mulai menggelar pelatihan untuk mencetak tukang baru dan membayar mereka karena generasi muda yang tidak mau menjadi pengrajin perak,” jelas Suwanta.
Meski begitu, menurutnya, jika sudah menguasai tekniknya, para pengrajin bisa beralih ke material lain bila harga perak sedang tinggi. Salah satunya swasa (campuran logam putih) yang harganya lebih murah tetapi permintaannya lumayan stabil. Saat ini, di Desa Batangkrajan sudah mulai muncul kerajinan swasa sebagai alternatif untuk menjaga kelangsungan produksi.
Sementara itu, Suryanto (53), pengrajin perak lainnya yang telah menggeluti usaha ini selama lebih dari 20 tahun, memproduksi sendiri aneka perhiasan dan aksesori di bawah merek Nela Silver. “Produksi sendiri, Nela Silver. Anting, cincin, liontin. Paling banyak diminati anting-anting,” katanya.
Ia memasarkan hasil kerajinan ke Bali dan juga melayani pembeli langsung dari rumahnya. Semua proses produksi dilakukan manual mulai pelubaran, penggilingan, hingga pembentukan. Dalam sebulan, Suryanto mampu membuat sekitar 300 item, dengan harga yang disesuaikan dengan pasar.
“Dikerjakan sendiri. Harganya per gram Rp30 ribu melihat harga perak. Bahan dari Bali, sesuai pesanan dan juga jual di rumah. Melayani sesuai permintaan,” pungkasnya. [tin/beq]






