Malang (beritajatim.com) – Bagi Muhammad Ali Khan Ridlo, sakit adalah hal biasa. Dalam dunia angkat besi yang penuh tekanan fisik, cedera, dan batas kemampuan tubuh, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Islam Malang (Unisma) ini sudah cukup akrab dengan rasa nyeri.
Namun, semua itu terbayar lunas saat namanya dipanggil sebagai peraih dua medali emas dan satu medali perak cabang olahraga angkat besi kelas 88 kg putra dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025.
Mewakili kontingen Kota Malang, Ali membuktikan bahwa tekad yang kuat dan latihan keras mampu membawanya meraih puncak prestasi. Tiga medali sekaligus, dari kategori berbeda, disabetnya dalam satu ajang bergengsi. Tak banyak atlet muda yang mampu mencapai level ini, apalagi sambil tetap menjalani studi teknik yang padat jadwal dan berat materinya.
“Saya mulai latihan sejak 2016, akhir kelas 9 SMP. Mulai ikut Porprov tahun 2019, dan ini sudah yang keempat kalinya. Kalau latihan, dua kali sehari. Pagi sebelum kuliah mulai jam 5 sampai setengah 8, sore lanjut lagi jam setengah 4 sampai Maghrib,” tuturnya saat ditemui di kampus, Kamis (3/7/2025).
Ali tidak hanya bertarung dengan beban besi di atas panggung kompetisi, tetapi juga dengan jadwal padat sebagai mahasiswa teknik semester dua. Latihan rutin, tugas kuliah, dan kehidupan sebagai anak kos menjadi bagian dari perjuangan harian yang dilakoni tanpa keluhan berlebihan.
“Capek pasti. Tapi sejak kecil saya sudah biasa kerja keras. Pelatih saya adalah om saya sendiri, jadi saya sudah dikenalkan dengan disiplin latihan dari awal. Waktu sakit pun saya tetap latihan. Selama tidak dirawat di rumah sakit, saya masih tetap datang ke tempat latihan,” kata Ali sambil tersenyum.
Di balik medali yang tampak berkilau, ada keringat yang tumpah tiap pagi dan sore, dalam suasana dingin Arjosari , lokasi tempat ia berlatih bersama timnya. Ali mengaku terbiasa membagi waktu dengan ketat. Kuliah pagi tak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan latihan. Justru ia menjadikannya motivasi untuk membentuk kedisiplinan diri.
“Latihannya sudah dijadwal pelatih, dan kami disiplin ikut. Kadang latihan sambil mengantuk karena begadang kerjakan tugas. Tapi saya nikmati prosesnya. Soalnya, saya tahu tanggung jawab saya bukan hanya mewakili diri sendiri, tapi juga Kota Malang dan Unisma,” ujarnya.
Tak kalah penting, Ali menyebut komunikasi dengan pelatih sebagai kunci suksesnya. “Setiap atlet itu punya masalah sendiri-sendiri, kadang cedera, kadang mental drop. Tapi kalau pelatih kita bisa jadi teman diskusi, itu sangat membantu,” katanya.
Dalam ajang Porprov 2025, Ali tampil dominan di kelas 88 kg. Ia mengangkat total beban yang hanya terpaut 1 kilogram dari lawan terdekatnya dalam perebutan medali perak. Ketegangan dalam setiap angkatan tidak hanya soal beban di tangan, tapi juga soal mental yang diuji di hadapan juri dan penonton.
“Waktu angkatan terakhir itu deg-degan banget. Soalnya saingan saya dari kontingen lain juga kuat. Tapi alhamdulillah saya bisa unggul tipis, satu kilo saja selisihnya,” jelasnya.
Ali mengaku, raihan 3 medali itu berasal dari tiga kategori: angkat snatch, clean and jerk, dan total angkatan. Ia meraih emas di dua kategori, dan satu perak dari akumulasi angkatan total. Ketiganya menunjukkan bahwa Ali adalah atlet lengkap yang tidak hanya kuat di satu jenis angkatan.
Rektor Universitas Islam Malang, Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., menyebut Ali sebagai bukti nyata dari keberhasilan program beasiswa jalur prestasi yang dimiliki Unisma. “Potensi Ali sudah terlihat sejak proses seleksi masuk kuliah. Maka kami berikan beasiswa atlet berprestasi. Alhamdulillah terbukti, ia mampu membanggakan kampus dan daerah,” ujarnya.

Selain itu, Ali mengungkapkan bahwa dukungan keluarga juga menjadi faktor penting. “Orang tua saya dukung penuh. Mereka sudah paham jadwal saya seperti apa. Karena pelatih saya om sendiri, komunikasi di rumah pun nyambung,” katanya.
Selain Ali, dua mahasiswa Unisma lainnya juga membawa pulang prestasi. Muhammad Mahir Qushoyyi, mahasiswa Teknik Elektro, meraih medali emas cabang Hapkido kelas daeriyun under 78 kg. Mahir merupakan mahasiswa reguler yang sukses menunjukkan keunggulan tanpa beasiswa atletik khusus.
Sementara itu, Dicka Yoga Pratama dari Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian berhasil meraih medali perak di cabang Hoki Outdoor Putra, mewakili kontingen Kabupaten Malang. Dicka merupakan penerima KIP Kuliah angkatan 2024.
Total, mahasiswa Unisma menyumbang 6 medali di Porprov IX 2025: 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu.
Unisma berkomitmen memberikan penghargaan bagi mahasiswa berprestasi, salah satunya berupa pembebasan SPP untuk periode tertentu, sesuai level kejuaraan. Kebijakan ini diterapkan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras mahasiswa di luar bidang akademik.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian mereka. Harapan kami, koordinasi dengan KONI dan pembinaan UKM olahraga terus berlanjut agar mahasiswa kami makin banyak yang berprestasi di tingkat daerah hingga nasional,” tutup Rektor Unisma dalam keterangan. (dan/kun)






