Banyuwangi (beritajatim.com) – Elizabeth Wulandari wali murid yang mendaftarkan anaknya ke SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi merasa dipermainkan, lantaran pendaftaran sekolah yang sebelumnya telah menyatakan menerima sang putri ternyata gagal.
Rasa kecewa mendalam itu disampaikan Elizabeth. Sambil menangis dia mengaku, pemberitahuan bahwa putrinya lolos diterima pada Selasa pagi pukul 07.30 WIB.
Diketahui, tidak hanya sang putri mengalami kekecewaan tersebut. Namun, sebanyak 123 calon siswa yang hendak melakukan daftar ulang pun turut merasa dipermainkan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) ini.
“Saya mendapatkan keterangan diterima lewat jalur pagu, anak saya masuk urutan nomor 7,” kata perempuan 52 tahun itu.
Selanjutnya, Elizabeth menceritakan bahwa sebelumnya sang putri senang bukan main lantaran dinyatakan lolos. Usai mendapat pengumuman, ia pun segera membantu sang anak menyiapkan berkas yang diperlukan untuk kebutuhan daftar ulang.
Namun saat sampai di lokasi sekolah SMA Negeri 1 Giri, Elizabeth tiba-tiba mendapat kabar buruk bahwa pengumuman tersebut gagal. Bahkan dia mengaku, tak diterima dengan baik bahkan saat masih berada di gerbang sekolah.
“Saya langsung disuruh pergi sama satpam. Satpam mengatakan kalau anaknya dipastikan tak diterima di sekolah itu karena pemberitahuan yang dapatkan berasal dari sistem yang error,” jelasnya.
Elizabeth mengaku, sebagai ibu yang sebelumnya telah berpengalaman mendaftarkan dua anak bersekolah dengan sistem online, di pun merasa jawaban yang diberikan sangat tidak masuk akal.
Kini, Elizabeth bingung sebab PIN yang telah digunakan untuk pendaftaran tidak lagi dapat digunakan sebab hanya bisa digunakan satu kali dan terkunci usai anaknya dinyatakan diterima di sekolah SMA Negeri 1 Giri tersebut.
“Setelah dapat keterangan seperti itu, anak saya sekarang down. Tadi diberitahukan sudah diterima, sekarang anaknya benar-benar sedih setelah tadi kami diusir satpam dan katanya gagal diterima,” jelasnya.
Elizabeth menceritakan, anaknya yang sebelumnya bersekolah di SMPN 2 Banyuwangi itu terbilang pintar, sebab dari nilai yang dihasilkan minimal 8.
Insiden ini pun disebutnya mematahkan mimpi anaknya yang berniat bersekolah di SMA tersebut untuk meraih cita-citanya menjadi psikolog di masa depan.
“Anak saya memang rencananya (sekolah) di SMA karena ingin menjadi psikolog, tidak berencana ke SMK,” tuturnya.
Kini, wanita yang tinggal di Kelurahan Kebalenan itu masih menunggu langkah pemulihan PIN yang dilakukan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.
Sementara itu, saat mengetahui permasalahan wali murid tersebut, Kepala sekolah SMAN 1 Giri, I Ketut Renen bahwa terdapat kesalahan teknis dalam sistem penerimaan murid baru.
Ketut membenarkan bahwa hari ini merupakan jadwal pemenuhan kuota, namun di sekolah tersebut sebetulnya kuota siswa telah terpenuhi. Dan terkait sistem yang bermasalah, Ketut mengatakan bahwa saat ini sistem tengah diperbaiki.
Namun Ketut enggan berkomentar ketika ditanya mengenai siapa yang bertanggungjawab atas kesalahan sistem tersebut.
“Saya tidak punya kapasitas untuk menjawab,” tuturnya. [tar/ian]






