Malang (beritajatim.com) – Dominasi narasi Barat dalam isu-isu global mulai digugat. Kali ini, suara dari Indonesia hadir lantang dalam forum bergengsi Budapest Global Dialogue (BGD) 2025. Tonny Dian Effendi, dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tampil memukau sebagai salah satu pembicara yang membawa perspektif berbeda: suara dan kepentingan Global South.
Konferensi internasional ini digelar pada Juni lalu 2025 di Budapest, Hungaria, diselenggarakan oleh Hungarian Institute of International Affairs (HIIA) bekerja sama dengan Observer Research Foundation (ORF) India. Ajang ini diikuti 400 peserta dari 70 negara dan menghadirkan 95 pembicara lintas sektor, mulai dari kalangan pemerintah, pemikir global, akademisi hingga pemimpin masyarakat sipil.
Tonny menjadi panelis pada sesi bertema “The Key to Sovereignty in the 21st Century”, berdiskusi setara dengan tokoh-tokoh besar seperti János Csák (eks Menteri Kebudayaan Hungaria), Ken Jimbo (Universitas Keio, Jepang), Mentor Beqa (Albania), dan Rami Desai (Indian Foundation). Diskusi dipandu oleh Noémi Pálfalvi, Direktur Hubungan Internasional Mathias Corvinus Collegium.
Alih-alih mengikuti arus dominan pemikiran realisme dan liberalisme yang biasa mendominasi forum-forum barat, Tonny tampil dengan pendekatan konstruktivisme. Ia menyatakan bahwa rekonstruksi identitas nasional adalah kunci menghadapi tantangan global masa kini.
Tony menyoroti bagaimana negara-negara Global South harus cerdas membangun narasi sendiri. Ia merasa Global South tidak terus-menerus menjadi objek dari kepentingan geopolitik global.
“Konektivitas global hari ini adalah peluang sekaligus ancaman. Jika tidak hati-hati, kedaulatan negara-negara berkembang bisa semakin tergerus,” tegas Tonny dalam forum tersebut.
Ia mengangkat contoh konkret kebijakan luar negeri Indonesia melalui konsep Poros Maritim Dunia, yang menurutnya bukan sekadar strategi ekonomi, tapi juga bentuk penegasan ulang identitas nasional di tengah perubahan tatanan global.
Forum ini juga diisi oleh tokoh-tokoh kelas dunia. Di hari pertama, hadir Liz Truss (mantan PM Inggris), John Mearsheimer (penggagas teori realisme ofensif), Sanjeev Sanyal (penasihat ekonomi PM India), Eric X. Li (pengusaha dan pemikir asal Tiongkok), dan Gladden Pappin (Presiden HIIA).
Pada hari kedua, pidato kunci disampaikan oleh Péter Szijjárto (Menlu Hungaria) dan Timčo Muncuski (Menlu Makedonia Utara), yang menyoroti urgensi redefinisi kedaulatan dan kolaborasi di tengah krisis global.
Kehadiran Tonny Dian Effendi tidak hanya membawa nama UMM ke kancah internasional, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai motor penggerak perspektif alternatif dari negara-negara Global South. Di tengah derasnya arus pemikiran Barat, suara dari selatan mulai bangkit, dan kali ini, datang dari Malang, Indonesia. (dan/but)






