Pacitan (beritajatim.com) – Cuaca laut yang tidak bersahabat memaksa Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pacitan meniadakan tradisi bakar ikan massal pada malam 1 Suro atau Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Padahal, ritual bakar ikan sebanyak 2,5 ton ini menjadi salah satu momen paling ditunggu dalam rangkaian Festival Nelayan yang biasa digelar di Dermaga Tamperan.
Wakil Ketua HNSI Pacitan, Ahmad Andry Hermansyah, mengatakan keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap kondisi ekonomi nelayan yang kini mengalami penurunan hasil tangkapan.
“Biasanya ikan yang dibakar berasal dari iuran nelayan dan pemilik kapal. Tapi sekarang hasil tangkapan menurun dan cuaca sedang tidak bersahabat. Kami tidak ingin membebani mereka,” tegasnya, Senin (23/6/2025).
Meski tanpa agenda bakar ikan massal, Festival Nelayan Pacitan 2025 tetap akan digelar pada Kamis, 26 Juni mendatang. HNSI bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan tetap mempertahankan sejumlah agenda inti seperti pembacaan sholawat, larung sesaji, kembul bujono, ruwatan, serta hiburan musik orkes dangdut yang sudah menjadi ciri khas acara tahunan ini.
Andry menjelaskan, larung sesaji tetap menjadi elemen utama dalam festival sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas keselamatan saat melaut. Dalam tradisi ini, para nelayan melarung sesaji ke tengah laut sebagai doa agar rezeki laut tetap melimpah.
“Kami terus menjaga nilai spiritual dan budaya. Larung sesaji menjadi simbol doa dan harapan agar laut tetap membawa berkah,” ujarnya.
Festival Nelayan Pacitan merupakan salah satu warisan budaya masyarakat pesisir yang menggabungkan unsur spiritual, tradisi lokal, dan kebersamaan sosial. Walau mengalami penyesuaian, penyelenggaraan festival tetap menjadi ruang penting untuk memperkuat identitas dan solidaritas nelayan Pacitan di tengah tantangan cuaca ekstrem. [tri/beq]






