Ponorogo (beritajatim.com) – Semangat Reog Ponorogo kini membara lebih dari sebelumnya. Pengakuan UNESCO yang menetapkan Reog sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia memberi gaung luar biasa terhadap eksistensi seni tradisi ini. Terbukti, Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-30 dan Festival Reog Remaja (FRR) ke-21 tahun 2025 menjadi yang paling semarak sepanjang sejarah pelaksanaannya.
Tahun ini, sebanyak 66 grup Reog dari berbagai penjuru Indonesia ambil bagian dalam perhelatan akbar tersebut. Jumlah ini menjadi rekor baru dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mereka datang dari daerah-daerah yang jauh, menunjukkan betapa kuatnya daya magnet Reog sebagai simbol budaya.
“Peserta yang paling jauh kalau dari sebelah barat Palembang, sebelah timurnya dari Papua, Waropen,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo, Judha Slamet Sarwo Edi, ditulis Kamis (19/6/2025).
Ledakan jumlah peserta ini, menurut Judha, tak lepas dari dampak langsung pengakuan UNESCO terhadap Reog Ponorogo. Semangat para pelestari seni pun mengalir deras, tidak hanya untuk berlaga di panggung, tetapi juga untuk merawat warisan budaya agar tak lekang oleh zaman.
Pembukaan resmi FNRP dan FRR digelar di Alun-alun Ponorogo pada Selasa malam (17/6). Dalam momen sakral tersebut, Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, membuka rangkaian acara Grebeg Suro 2025 sekaligus menerima sertifikat resmi dari UNESCO. Penyerahan itu menjadi simbol bahwa Reog kini bukan hanya milik Ponorogo atau Indonesia, tetapi juga milik dunia.
“Ini ledakan yang luar biasa. Tentunya ini adalah spirit setelah Reog ditetapkan sebagai warisan budaya UNESCO. Semangatnya membara. Semangat untuk nguri-uri Reog Ponorogo,” ungkap Judha.
Tingginya animo peserta membuat panitia harus menyesuaikan jadwal pentas. Jika sebelumnya hanya delapan grup tampil setiap malam, kini jumlahnya ditingkatkan menjadi 10 hingga 12 grup per malam. Semua grup yang mendaftar diterima tanpa terkecuali, sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan semangat pelestarian mereka.
“Peserta sudah berlatih jauh-jauh hari. Beberapa bahkan menempuh perjalanan panjang. Itu yang membuat kami memutuskan untuk menerima semua. Ini bentuk penghargaan,” kata Judha.
Antusiasme juga membara di kalangan pelajar. Festival Reog Remaja tahun ini mencatat partisipasi 24 grup yang seluruhnya berasal dari SMP dan sederajat se-Ponorogo. Menariknya, mereka mendaftar secara mandiri, berlatih sepenuh hati, dan membiayai keikutsertaan mereka dari kantong sendiri.
“Tentunya even ini harus kita jaga, bukan sekadar ajang hiburan, tetapi sebagai cara nyata melestarikan Reog agar tidak terancam punah,” pungkas Judha.
Kemeriahan ini bukan hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga pengingat kuat akan pentingnya pelestarian budaya. Reog bukan sekadar tontonan, melainkan jati diri, warisan, dan kebanggaan bangsa. [end/suf]






