Blitar (beritajatim.com) – Kota Blitar bukan daerah penghasil kopi. Bahkan kota yang dijuluki Bumi Bung Karno itu tidak masuk dalam 5 besar daerah penghasil kopi di Jawa Timur, masih kalah jauh dengan Bondowoso dan Jember.
Meski demikian Kota Blitar ternyata justru berani menggelar event bertajuk kopi yang diberi nama Soekarno Coffee Fest. Dalam event ini ada 40 lapak kopi yang dihadirkan, bukan hanya dari Blitar namun juga luar daerah.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin menyebut ajang ini sebagai wadah untuk menumbuhkan peluang usaha kopi di Bumi Bung Karno. Pria yang akrab disapa Mas Ibin itu berharap dengan adanya event ini akan tumbuh pengusaha-pengusaha kopi yang baru di Kota Blitar.
“Event seperti ini punya potensi luar biasa untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, khususnya pelaku usaha kopi lokal,” ucap Mas Ibin, Sabtu (14/6/2025).
Soekarno Coffee Fest sendiri bukan festival kopi biasa. Sesuai namanya, ajang ini mengusung semangat Bung Karno, sang proklamator sekaligus pecinta kopi sejati.
Diketahui Bung Karno setiap pagi selalu menyeduh kopi tubruk dengan resep khas. Yakni, satu sendok teh bubuk kopi dan satu setengah sendok teh gula.
Sajian itu biasa menemani sarapannya berupa roti dengan mentega dan gula. Komposisinya tak pernah berubah seumur hidupnya.
Bagi orang nomor satu di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar ini, kopi itu inspirasi karena banyak pemikir besar, tokoh hebat, yang memulai ide-idenya dari secangkir kopi. Maka tak heran, dia berharap kedai-kedai kopi juga bisa menyediakan bacaan atau ruang diskusi.
“Tidak hanya mengenang sang proklamator, festival ini juga menggelar lomba barista dan penyeduhan kopi yang diikuti pemuda-pemudi Kota Blitar. Kami harap ajang ini juga meningkatkan skill anak-anak muda dalam mengolah kopi,” terangnya.
Mas Ibin pun berharap dengan adanya event ini, akan tumbuh ekonomi kreatif di bidang kopi. Sehingga ekonomi masyarakat bisa tumbuh sekaligus menyerap tenaga kerja. [owi/beq]






