Surabaya – Rasa penasaran kian menjadi-jadi ketika tim kami benar-benar tiba di wilayah Kampung Gunung Anyar di kawasan Surabaya Timur.
Tujuan kami adalah gunung lumpur. Ragam informasi yang sebelumnya telah kami peroleh dari media sosial dan portal berita online kembali terbayang-bayang di dalam kepala.
Kami menyusuri gang-gang kecil di daerah Kampung Gunung Anyar sambil sesekali berhenti untuk menanyakan lokasi gunung lumpur kepada warga setempat. Setelah menyusuri gang demi gang dan dengan diarahkan oleh warga yang kami temui, kini kami benar-benar tiba di lokasi tujuan kami.
Aroma khas langsung menyengat indera penciuman. Semacam bau gas yang bercampur dengan bau lumpur dan minyak.
Belum lagi, tak jauh dari pusat keluarnya lumpur dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh warga. Aroma yang tercipta pun kian sukar dimirip-miripkan dengan aroma apapun.
Kami terus mendekat. Sederet pertanyaan kemudian bermunculan saat melihat gundukan lumpur yang terus mengeluarkan gelembung-gelembung lumpur dari lubang yang nyaris tak terlihat. Kami dituntut untuk ekstra hati-hati ketika melangkah di area gundukan lumpur tersebut.
Kemunculan gunung lumpur di daerah Gunung Anyar Kota Surabaya Jawa Timur menyisakan sederet misteri.
Berbagai informasi yang terdapat di media sosial dan beberapa media online seolah memiliki versi masing-masing. Tim kami turut melakukan pencarian informasi dengan mengunjungi langsung Kampung Gunung Anyar.
Tim kami berhasil mengumpulkan informasi dari salah satu warga lokal yang telah puluhan tahun hidup berdampingan dengan gundukan lumpur tersebut.
Kesepakatan Tiga Kiai
Mulyono (bukan nama sebenarnya) mengucap bismillah setelah perekam suara terpasang di salah satu kerah bajunya.
Lelaki berusia 75 tahun itu secara teliti dan hati-hati menceritakan kisah awal mula nama Kampung Gunung Anyar yang erat kaitannya dengan kemunculan gunung lumpur. Mulyono menuturkan kisah yang juga diyakini oleh masyarakat setempat sebagai awal mula kemunculan gunung lumpur di daerah mereka.
“Ini dulu, sebelum ada sebutan Kampung Gunung Anyar, dulu itu ada 3 orang yang kepingin masuk ke wilayah ini. Tiga orang itu dengan nama Mbah Mahmud, Mbah Tanjung Alam, dan ketiga Mbah Amir” tutur Mulyono.
Mulyono menuturkan bahwa pada saat ketiga orang tersebut memasuki wilayah Gunung Anyar, wilayah itu merupakan hutan belantara atau yang dalam bahasa Jawa disebut alas.
Mbah Mahmud, Mbah Tanjung Alam dan Mbah Amir memiliki tiga wilayah masing-masing. Bagian utara menjadi wilayah Mbah Mahmud, bagian tengah wilayah Mbah Tanjung Alam dan bagian selatan menjadi wilayah Mbah Amir.
Dalam wilayah Mbah Tanjung Alam, terdapat gundukan tanah yang membuat ketiga orang tersebut mengadakan pembicaraan atau musyawarah.
“Yang di tengah ini menemui suatu hal yang aneh, ada gundukan tanah yang agak tinggi. Mungkin penemuan yang seperti itu diadakan musyawaroh (musyawarah) diantara ketiga ini: Mbah Mahmud, Mbah Tanjung Alam dan Mbah Amir. Setelah membicarakan keadaan, situasi seperti itu kan ada bukti kenyataan, mungkin ada kesepakatan menyebut gunung. Ini alangkah baiknya kita bisa menyebut gunung dan gunung ini mungkin gunung yang baru. Kita sebut saja Gunung Anyar” lanjut Mulyono.
Manusia yang Mengalah
Secara pribadi Mulyono meyakini bahwa nama Gunung Anyar sejatinya telah muncul jauh sebelum kedatangan Mbah Mahmud, Mbah Tanjung Alam dan Mbah Amir ke wilayah itu dulu.
“Dulu-dulunya mas, kalo menurut pendapat saya; menurut keyakinan saya, ada suatu kejadian tetapi kejadian itu tidak mungkin menimbulkan istilahnya darah” ungkap Mulyono.
Mulyono melanjutkan ceritanya setelah jeda sekian detik. Kali ini cerita yang dituturnya berdasar pada keyakinan pribadinya. Menurut Mulyono, gunung lumpur tersebut merupakan manusia yang mengalah dalam suatu perkelahian.
“Asal usulnya itu (gunung lumpur) sebenarnya manusia yang muncul menjadi gunung”. Kalimat yang diucap Mulyono spontan menciptakan kekagetan. Dalam banyak informasi yang kami peroleh sebelumnya, tak ada satupun yang menyebut bahwa gunung lumpur tersebut asal usulnya adalah manusia. Ini adalah cerita baru. Tak berhenti di situ, cerita selanjutnya semakin mengejutkan.
“Perkiraan saya, waktu itu ada kejadian antara kedua orang. Kedua orang ini sama-sama sakti. Jadi yang diadu itu bukan fisik tapi mengadu ilmu. Kalo menurut saya, yang menjadi gunung itu bukan kalah tapi mengalah. Begitu dia mengalah, dia lenyap gak ada jasad. Dirinya itu hilang langsung, tapi muncul suatu gundukan tanah”
Rumah Mulyono terletak persis di dekat gunung lumpur. Beliau beserta keluarganya telah menempati rumah tersebut sejak tahun 1996. Setiap bulan, Mulyono menyalami gunung tersebut untuk kebaikan dan kesehatan keluarganya serta masyarakat setempat.
“Saya juga setiap bulan itu saya salami demi untuk keselamatan saya dan keluarga saya dan mungkin warga sekitar sini” tutup Mulyono.

Saksi Bisu Eksploitasi Migas Zaman Kolonial
Dr Ir Amien Widodo Msi yang juga Dosen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sekaligus pakar Geologi, menjelaskan bahwa lokasi gunung lumpur tersebut merupakan bekas eksploitasi minyak dan gas pada zaman kolonial Belanda.
Daerah Jawa Timur merupakan daerah cekungan minyak dan gas (migas). Belanda kemudian melakukan pengeboran dengan kedalaman 30-40an meter pada tahun 1830an.
“Daerah Jawa Timur merupakan daerah cekungan migas termasuk yang terbesar di Indonesia. Sehingga itu sudah dieksplorasi dan dieksploitasi sejak zaman Belanda. Sekitar tahun 1830-an” jelas Amien.
Setelah tahun 1830, lokasi tersebut tidak lagi memiliki kandungan minyak dan gas yang banyak. Akibatnya, mulai ditinggalkan.
“Saat sudah habis (kandungan migas), trus ditinggal. Padahal di situ posisinya masih banyak gas. Nah gas tersebut bisa mendorong lumpur ke atas. Muncullah gunung lumpur yang ada di beberapa tempat di Jawa Timur, seperti di Gunung Anyar” tambahnya.
Beliau juga menegaskan bahwa istilah kawah tidak tepat untuk menyebut lokasi tersebut. Amien juga mengatakan bahwa gunung lumpur tersebut tidak memiliki kaitan dengan lumpur Lapindo yang berlokasi di Kecamatan Porong Sidoarjo, Jawa Timur.
“Mungkin istilah kawah itu kurang tepat. Kalau di kita dari dunia sains geologi, kita menyebutnya sebagai mud volcano atau gunung lumpur. Gak ada hubungannya (lumpur Lapindo dan gunung lumpur di Gunung Anyar). Sendiri, beda-beda. Cekungan migas itu sendiri-sendiri” bantah Amien.
Gunung lumpur di daerah Gunung Anyar tidak memiliki kandungan yang berbahaya. Hal tersebut disampaikan oleh Amien selaku pakar geologi dan dibenarkan juga oleh Mulyono selaku warga lokal yang telah puluhan tahun berbagi ruang hidup dengan gunung lumpur tersebut. Semburan lumpur di daerah tersebut juga tak dapat dipastikan akan berlangsung sampai kapan. (ted)
Penulis: Aprianus Defal Deriano Bagung
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






