Surabaya (beritajatim.com) – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Jawa Timur menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat, menjadi indikator kuat akselerasi digitalisasi ekonomi di региональный. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengungkapkan bahwa transaksi QRIS di Jawa Timur pada Triwulan I 2025 mencapai Rp 26,05 triliun, melonjak fantastis sebesar 227,2% (year-on-year).
Data menggembirakan ini dipaparkan Ibrahim dalam *Media Briefing* Triwulan II-2025 yang diselenggarakan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II Jawa Timur, dan Kementerian Keuangan Jawa Timur di Surabaya, Rabu (14/5/2025). Ibrahim menyoroti bahwa pertumbuhan eksponensial transaksi QRIS ini didukung oleh peningkatan signifikan dalam adopsi baik oleh pedagang (*merchant*) maupun pengguna.
“Pertumbuhan transaksi QRIS yang sangat signifikan ini menjadi bukti nyata betapa pesatnya digitalisasi ekonomi di Jawa Timur,” ujar Ibrahim, sembari merujuk pada data yang menunjukkan peningkatan jumlah merchant QRIS yang mencapai 4,51 juta pada Maret 2025, serta total 8,48 juta pengguna QRIS secara kumulatif hingga akhir Triwulan I 2025.
Grafik yang dipaparkan BI Jawa Timur secara visual memperkuat narasi ini. Terlihat jelas tren peningkatan transaksi non-tunai, di mana QRIS menjadi kontributor utama pertumbuhan. Pada grafik TRANSAKSI NON TUNAI, lonjakan signifikan pada kuartal pertama tahun 2025 dengan pertumbuhan 49,20% (yoy) menunjukkan betapa QRIS semakin menjadi pilihan utama masyarakat dalam bertransaksi. Kontribusi QRIS terhadap total transaksi non-tunai juga terus meningkat dari kuartal ke kuartal.
Ibrahim menjelaskan bahwa kemudahan dan kepraktisan QRIS menjadi faktor utama pendorong adopsi yang masif ini. Masyarakat dan pelaku usaha semakin merasakan manfaat transaksi digital yang cepat, aman, dan efisien. Peningkatan jumlah merchant yang menyediakan pembayaran melalui QRIS juga semakin memperluas ekosistem pembayaran digital di Jawa Timur.
Lebih lanjut, Ibrahim menekankan bahwa digitalisasi sistem pembayaran, yang salah satunya tercermin dari pesatnya penggunaan QRIS, menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
“Meskipun kita menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan fragmentasi perdagangan, akselerasi digitalisasi pembayaran melalui QRIS ini memberikan optimisme bagi kita untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Sinergi antara BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS di Jawa Timur juga terus diperkuat untuk memastikan stabilitas sistem keuangan di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital ini. Keempat lembaga berkomitmen untuk terus mendukung inovasi dan kebijakan yang pro-pertumbuhan, termasuk dalam mendorong adopsi pembayaran digital yang aman dan efisien.[rea]






