Jakarta (beritajatim.com) – Di tengah era digital yang semakin dinamis, media sosial menjadi ujung tombak dalam komunikasi korporat.
Hal ini mengemuka dalam Kuliah Umum bertajuk “Komunikasi Korporat di Era Digital” yang digelar oleh Universitas Paramadina pada Senin, 5 Mei 2025, di Kampus Trinity Tower Lantai 45, Kuningan, Jakarta.
Acara ini menghadirkan dua alumni inspiratif sebagai pembicara, yaitu Fajar Akbar, National Event & Activation Manager You C1000, dan Aldin Hasyim, Advisor Corporate Communications Telkomsel.
Kuliah umum dimoderatori oleh Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Dr. Rini Sudarmanti, dan diikuti oleh mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina.
Dalam paparannya, Fajar Akbar menekankan pentingnya komunikasi korporat sebagai elemen strategis yang membangun hubungan harmonis antara perusahaan dan publik.
“Komunikasi korporat tidak bisa dipisahkan dari public relations. Keduanya saling terintegrasi, tergantung dari substansi dan sudut pandang yang digunakan,”* ujar Fajar.
Media Sosial: Kanal Utama Penyampaian Pesan Korporasi
Fajar juga membahas perubahan signifikan dalam pola komunikasi selama masa pandemi COVID-19, yang mendorong perusahaan untuk mengandalkan media sosial sebagai kanal utama.
“Media sosial menjadi sangat menentukan keberhasilan penyampaian pesan perusahaan. Di masa pandemi, konten harus disusun dengan pendekatan yang tidak hanya informatif, tapi juga menyentuh secara emosional,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyinggung pengalaman You C1000 menghadapi lonjakan kompetitor saat pandemi karena meningkatnya permintaan vitamin C.
“Dalam menyusun konten komunikasi, kita tidak bisa sembarangan. Harus ada unsur fitur dan emosional yang mampu menyentuh audiens,” tegas Fajar.
Meski You C1000 masih memimpin pasar dari sisi nilai (value), ia mengakui bahwa dari segi volume, produk lain seperti tablet hisap Vitacimin lebih unggul karena harga yang lebih ekonomis.
Kolaborasi Akademisi dan Praktisi
Kuliah umum ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengalaman industri, tetapi juga menjembatani antara dunia akademik dan praktik komunikasi profesional.
“Kegiatan ini kami rancang untuk menciptakan sinergi antara pengetahuan teoritis dan realita industri, agar mahasiswa siap menghadapi tantangan komunikasi masa kini,” ujar Dr. Rini Sudarmanti.
Sementara itu, Aldin Hasyim dari Telkomsel juga turut membagikan insight terkait pentingnya adaptasi perusahaan terhadap tren digital dan perubahan perilaku konsumen.
Selanjutnya, Aldin Hasyim, mewakili perspektif dari industri telekomunikasi, memaparkan dinamika perkembangan infrastruktur digital di Indonesia.
Ia menyebutkan bahwa hingga tahun 2024, tingkat penetrasi internet nasional telah mencapai 79,5%, dan mayoritas pengguna internet di Indonesia mengakses media sosial sebagai sarana berkumpul, berekspresi, dan mencari informasi.
“Telkomsel adalah operator yang paling mencerminkan Indonesia. Kami hadir sejak 1995, dengan tonggak besar seperti peluncuran 3G pada 2006, 4G, dan kini perluasan jaringan 5G yang sudah diuji coba di ajang Asian Games dan diperluas ke wilayah seperti Makassar” jelas Aldin.
Ia menambahkan bahwa teknologi 5G memiliki potensi besar untuk mempercepat akses data jarak jauh, yang sangat relevan dalam mendukung ekosistem digital nasional.
Aldin juga menyoroti pentingnya memahami perbedaan antara organizational communication dan corporate communication. Ia menekankan bahwa platform digital yang paling diminati saat ini adalah TikTok untuk konten visual dan viral, sementara untuk percakapan privat, WhatsApp masih mendominasi.
“Virality itu tidak bisa dirancang sepenuhnya. Ia bergantung pada momentum. Ketika momen itu datang dan kita tangkap dengan tepat, maka konten bisa meledak” ujarnya.
Kuliah umum ini tidak hanya membuka cakrawala baru bagi mahasiswa, tetapi juga memperkuat hubungan antara kampus dan para alumni yang telah sukses di bidangnya. (ted)






