Malang (beritajatim.com) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 mengangkat tema besar: ‘Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua’. Tema ini mencerminkan semangat kolaboratif seluruh elemen bangsa dalam menciptakan pendidikan yang inklusif sekaligus berkualitas.
Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D., menyoroti dua poin krusial dari tema tersebut, yakni pemerataan akses pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Menurutnya, partisipasi semesta berarti semua anak Indonesia, termasuk yang tinggal di pelosok, wilayah terluar, atau daerah dengan akses terbatas, harus mendapatkan hak pendidikan yang layak.
“Masih banyak catatan kita terkait keterjangkauan pendidikan di daerah pedalaman dan terluar. Ini pekerjaan besar bagi bangsa,” ujar Prof. Junaidi kepada beritajatim.com, Jumat (2/5/2025).
Namun, menurutnya, kualitas pendidikan tidak boleh hanya dimaknai dari sisi akademik. Pengembangan intelektual memang penting, tetapi membentuk karakter yang benar jauh lebih utama.
“Pendidikan bukan sekadar mencetak siswa pintar, tapi harus mencetak siswa yang benar. Kita lebih butuh orang yang benar daripada sekadar pintar tapi tidak punya karakter. Maka, penguatan karakter menjadi kunci,” tegasnya.
Unisma, sebagai perguruan tinggi Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah, mengembangkan pendidikan berbasis tiga penguatan utama: religiusitas, intelektualitas, dan nasionalisme.
Penguatan karakter religius dengan membangun nilai keaswajaan sebagai pondasi moral mahasiswa. Pengembangan kapasitas intelektual dengan mendorong mahasiswa berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Cinta tanah air, menanamkan kebanggaan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
“Ketiga pilar ini membentuk pribadi utuh: secara spiritual, intelektual, dan kebangsaan,” jelas Prof. Junaidi.
Dalam milestone pengembangan yang ditetapkan yayasan sejak tahun 2010, UNISMA menargetkan menjadi World Class University pada tahun 2027. Untuk mewujudkan target itu, UNISMA fokus memperkuat tridharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Prof. Junaidi menekankan bahwa dosen UNISMA harus mengembangkan penelitian berbasis spesialisasi keilmuan yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Publikasi di jurnal internasional bereputasi memang penting untuk pengembangan ilmu. Tapi lebih dari itu, hasil penelitian juga harus memberi dampak sosial. Penelitian harus bisa diaplikasikan dan menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.
Penelitian menjadi pilar utama Unisma dalam meningkatkan mutu perguruan tinggi. Dengan mendorong dosen untuk melakukan penelitian yang berdampak dan mengaplikasikannya dalam pengabdian masyarakat, Unisma menegaskan komitmennya terhadap pendidikan tinggi yang relevan dan solutif.
“Menuju kampus kelas dunia bukan sekadar slogan. Kita butuh kualitas nyata dalam pendidikan, riset, dan kontribusi sosial. Dan itulah yang sedang kami bangun di Unisma,” pungkasnya. (dan/but)






