Pacitan (beritajatim.com) – Di usia senjanya yang telah menginjak 81 tahun, Mbah Tego harus menjalani hidup dalam keterbatasan. Tinggal sebatang kara di rumah reot dari papan kayu dan anyaman bambu di Dusun Tanjung, Desa Tremas, Kecamatan Arjosari Pacitan, ia menggantungkan hidup dari uluran tangan tetangga dan bantuan pemerintah.
Rabu siang (30/4/2025), Mbah Tego dikejutkan dengan kedatangan sejumlah tamu tak biasa. Kapolres Pacitan AKBP Ayub Diponegoro Azhar, Kapolsek Arjosari, Dinas Sosial, serta jajaran Forkopimca Kecamatan Arjosari menyambangi kediamannya.
Bukan hanya membawa bantuan, namun mereka hadir untuk memastikan kondisi kesehatan dan kehidupan Mbah Tego. “Masih bisa beraktivitas. Bisa jalan, bisa masak air sendiri, juga bisa ke kamar mandi,” ujar Kapolres.
Mbah Tego diketahui telah menerima bantuan pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) serta Program Keluarga Harapan (PKH) kategori lansia. Namun, karena keterbatasan fisik dan tidak mampu memasak sendiri, bantuan tersebut dikelola oleh tetangga yang juga rutin memberinya makanan matang.
Dalam kunjungan itu, Kapolres Pacitan turut menyerahkan paket sembako. Namun, ia menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan semata soal bantuan materi. “Bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi soal kehadiran yang membawa makna. Ini adalah bentuk kepedulian dan nilai gotong royong,” tegasnya.
Kisah Mbah Tego menjadi pengingat bahwa masih banyak warga lansia di pelosok desa yang bertahan hidup dalam keterbatasan, dan uluran tangan dari sesama, sekecil apa pun, bisa menjadi harapan besar dalam kesunyian hari tua. (tri/kun)






