Surabaya (beritajatim.com) — Karung goni yang dulu identik dengan wadah beras atau pupuk di pasar tradisional kini menjelma menjadi kemasan bernilai ekspor. Semuanya berkat tangan dingin Muhammad Arif Arifin, pengusaha asal Surabaya.
Tak hanya sukses menembus pasar internasional, Arifin juga aktif mengedukasi masyarakat tentang manfaat goni bagi lingkungan dan perdagangan komoditas unggulan Indonesia.
Berawal dari rasa ingin tahu dan keprihatinan terhadap limbah kemasan sintetis, Arifin melihat peluang dari bahan sederhana yang selama ini dianggap remeh. Goni, menurutnya, memiliki keunggulan yang belum banyak diketahui orang—terutama dalam mendukung produk ekspor Indonesia seperti kopi dan cengkeh.
“Banyak yang belum tahu kalau karung goni sangat dibutuhkan untuk komoditas seperti kopi dan cengkeh,” ujar Muhammad Arif Arifin, saat ditemui di workshop-nya di Surabaya, Jumat (30/4/2025).
Dalam dunia ekspor, goni digunakan sebagai pelapis luar atau tambahan pengaman dalam pengemasan produk yang rentan rusak, terkena kelembapan, atau kotoran selama pengiriman. Beberapa negara bahkan mengapresiasi kemasan goni karena nilai estetikanya yang natural dan daya tahannya terhadap perubahan suhu serta kelembaban.
“Indonesia kaya sumber daya alam, dan goni bisa jadi pelindung alami dalam perdagangan hasil bumi kita. Ini bukan cuma soal kemasan, tapi juga cara kita menjaga kualitas saat produk menempuh perjalanan jauh ke luar negeri,” jelas alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga ini.
Beberapa produk yang lazim menggunakan goni dalam pengemasannya meliputi kopi, kakao, biji-bijian, hingga tekstil. Namun, Arifin menyebut bahwa penggunaan goni bukanlah kewajiban mutlak dalam ekspor, melainkan pilihan strategis untuk menjaga kualitas produk dan menambah nilai ekologis.
Di tengah maraknya kemasan plastik dan karton, goni menjadi alternatif ramah lingkungan yang kini mulai dilirik kembali. Arifin juga menyebutkan bahwa pasar luar negeri, terutama Eropa, menunjukkan minat tinggi terhadap produk yang dikemas dengan material alami seperti goni.
“Mereka (konsumen luar negeri) justru melihat goni sebagai nilai tambah, bukan sekadar pelindung. Ini bisa jadi diferensiasi produk kita di pasar global,” katanya.
Dengan pendekatan berkelanjutan dan semangat edukatif, Muhammad Arif Arifin membuktikan bahwa bisnis tak hanya soal untung-rugi, tapi juga kontribusi terhadap ekosistem dagang dan kelestarian lingkungan.
“Dari Surabaya, suara karung goni kini bergema hingga ke negeri seberang, menjadi simbol kolaborasi antara tradisi dan inovasi,” tuturnya.
“Di balik teksturnya yang kasar dan warnanya yang kusam, karung goni menyimpan cerita tentang perubahan,” pungkasnya. [asg/but]






