Jember (beritajatim.com) – Dewan Kesenian Jember (DKJ) mengkritik ketidaksetaraan alokasi anggaran daerah terhadap.Jember Fashion Carnaval (JFC) dan seni tradisi.
JFC mendapat anggaran Rp 1,9 miliar, setelah ada tambahan Rp 400 jiuta dari proses realokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jember 2025. Sementara itu anggaran untuk sejumlah kegiatan seni tradisi dikurangi atau bahlan dihapus.
Sekretaris DKJ Ikwan Setiawan bisa memahami tambahan anggaran untuk JFC. “Alasannya: dampak ekonomi pariwisata yang luar biasa,” katanya, Senin (21/4/2025).
“Tentu itu sah-sah saja, karena Pemkab Jember memang harua mengapresiasi kontribusi penting JFC terhadap perekonomian. Saya sendiri tidak dalam posisi menolak anggaran untuk JFC,” kata Ikwan.
Namun Ikwan mempermasalahkan asas kesetaraan yang seharusnya berlaku untuk anggaran bagi kegiatan kesenian rakyat dan ekspresi budaya lainnya.
“Besarnya anggaran untuk JFC dipandang pelaku seni dan budaya sangat jauh dari anggaran yang disiapkan Pemkab untuk aktivitas budaya lokal,” kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember ini.
Selama ini para pelaku seni tradisi merasakan ketidakpedulian instansi pemerintah. Alokasi anggaran untuk aktivitas seni tradisi pun jadi bahan perbincangan di antara mereka.
“Apa karena kesenian rakyat dan ragam ekspresi budaya lokal itu tidak mendatangkan wisatawan, maka anggaran untuk mereka kurang diperhatikan?” kata Ikwan.
Ikwan berharap kesenian rakyat dan ekspresi budaya lain seperti ritual, permainan rakyat, olahraga tradisional dan yang lain dipandang sebagai penjaga nilai, spirit, energi, dan modal sosial yang menjadi pengikat bagi dinamika perkembangan masyarakat Jember.
“Budaya menjadi penuntun atau kompas yang memberikan visi dan arah gerak masyarakat di tengah-tengah kemajuan tanpa harus kehilangan modal sosial yang sangat berharga,” kata Ikwan.
Selain itu,.lanjutnya, dalam ragam ekspresi budaya bisa ditemukan rajutan sejarah dan pengetahuan lokal yang menjadi solusi alternatif bagi permasalahan masa kini.
“Misalnya, ruwatan atau rokat yang memiliki tujuan untuk mengajak manusia hidup harmoni dengan alam di tengah perubahan iklim secara global,” kata pria yang juga Koordinator Pusat Kajian Pemajuan Kebudayaan (Pusakajaya) Universitas Jember ini.
Sumbangsih seni pertunjukan tradisional untuk perekonomian kecil.juga tidak bisa disepelekan “Coba perhatikan ramainya pedagang makanan, minuman, mainan, rokok, ketika ada pertunjukan ludruk, jaranan, ataupun reyog di desa-desa. Artinya, bukan hanya JFC yang berkontribusi penting terhadap gerak ekonomi kawasan,” kata Ikwan. [Wir]






