Gresik (beritajatim.com) – Puncak arus mudik ke Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, diprediksi terjadi pada 28 Maret 2025. Hal ini disebabkan karena pada tanggal tersebut sebagian besar aktivitas masyarakat sudah memasuki masa libur Lebaran, sehingga banyak perantau memanfaatkan waktu tersebut untuk pulang kampung.
Ketua Posko Mudik Lebaran Pelabuhan Gresik, Devry Andrey, mengungkapkan bahwa mobilitas pemudik yang menggunakan kapal cepat terus dipantau oleh pihaknya.
“Hari ini terdapat 400 penumpang yang berangkat ke Pulau Bawean. Rinciannya, 383 orang dewasa dan sisanya anak-anak,” ujarnya, Rabu (26/3/2025).
Menurut Devry, sebagian besar pemudik merupakan warga Bawean yang bekerja di Malaysia dan Singapura. Mereka datang secara rombongan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Namun, faktor cuaca menjadi tantangan tersendiri karena kondisi gelombang Laut Jawa yang tidak selalu dapat diprediksi.
Salah satu pemudik, Aisyah, warga Sangkapura yang merantau di Malaysia, mengaku harus mencari penginapan di sekitar Pelabuhan Gresik akibat cuaca buruk yang menyebabkan penundaan keberangkatan kapal.
“Saya terpaksa menginap semalam karena diberitahu bahwa kapal ditunda keberangkatannya akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi,” ungkapnya.
Hal serupa dialami Harun, warga Kecamatan Tambak, Bawean. Ia mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan karena harus menginap lebih lama sebelum akhirnya bisa berangkat ke kampung halamannya.
“Tahun lalu saya tidak pulang. Sekarang saya mudik bersama keluarga, meskipun keberangkatan sempat tertunda dan baru bisa berangkat hari ini,” katanya.
Pihak terkait mengimbau para pemudik untuk selalu memantau informasi cuaca dan keberangkatan kapal guna mengantisipasi kemungkinan penundaan perjalanan akibat kondisi laut yang kurang bersahabat. [dny/but]






