Pasuruan (beritajatim.com) – Aksi premanisme yang terjadi di Kabupaten Pasuruan selama bulan Ramadan terus meningkat. Beberapa kejadian premanisme terus terjadi, terutama di wilayah barat Pasuruan, mulai dari Kecamatan Gempol hingga Kecamatan Purwosari.
Kapolres Pasuruan, AKBP Jazuli Dani Irawan, mengakui bahwa jumlah personel di Polres Pasuruan masih terbatas, sehingga upaya penanganan premanisme menjadi kurang optimal.
“Anggota ini jauh dari kata cukup, jadi konsentrasinya terpecah,” ungkap Jazuli.
Meski begitu, kasus yang terjadi di Kafe Edelwis sudah masuk dalam ranah penyidikan. Pihak kepolisian juga telah mengamankan satu orang yang diduga terlibat dalam aksi premanisme tersebut.
Jazuli menegaskan bahwa pihaknya akan bersikap tegas dalam menindak aksi premanisme di wilayah hukum Polres Pasuruan. Ia bahkan menolak adanya upaya Restorative Justice (RJ) dalam kasus ini.
“Saya pastikan bahwa dalam kasus premanisme ini tidak ada RJ karena ini sangat merugikan masyarakat. Bahkan kemarin ada surat yang masuk ke kami untuk meminta RJ dalam kasus premanisme ini,” tambahnya.
Sementara itu, Ayik Suhaya, salah satu tokoh masyarakat, menjelaskan bahwa saat ini baru satu tersangka yang diamankan. Padahal, dalam aksi pengeroyokan yang terjadi di Kafe Edelwis, jumlah pelaku diperkirakan mencapai lebih dari 10 orang.
“Ya, kami mendukung jika memang tidak ada RJ. Saat ini masih ada satu tersangka yang diamankan, sementara aksi pengeroyokan di Kafe Edelwis diperkirakan melibatkan sekitar 10-30 orang,” jelasnya singkat. [ada/beq]






