Pacitan (beritajatim.com) – Ramadan membawa berkah bagi para pelaku usaha janggelan atau cincau hitam di Pacitan, Jawa Timur. Salah satunya adalah Haris Kuswanto, pemilik usaha janggelan di Desa Jeruk, Kecamatan Bandar. Saat puasa, permintaan janggelan meningkat drastis hingga 10 kali lipat dibandingkan hari biasa.
Biasanya, Haris hanya memproduksi 40 hingga 60 ember janggelan per hari. Namun, selama bulan puasa, jumlahnya melonjak menjadi 300 hingga 500 ember per hari. Kenaikan permintaan ini membuatnya harus menambah jumlah pekerja dari 4 orang menjadi 12 orang. Bahkan, selama Ramadan, Haris menerapkan sistem kerja dua shift.
“Kalau hari biasa, karyawan hanya tiga sampai empat orang. Tapi selama puasa, tenaga kerja bertambah antara 10 hingga 12 kali lipat,” ungkap Haris, ditulis Jumat (21/3/2025).
Janggelan banyak diburu masyarakat untuk dicampur dalam minuman segar seperti es campur dan dawet. Tak hanya mengandalkan pasar lokal, produk janggelan dari Pacitan ini, juga telah merambah ke luar daerah. Distribusinya mencapai 70 hingga 80 persen ke wilayah Ponorogo hingga Wonogiri.
Faktor cuaca menjadi penentu laris tidaknya produksi janggelan buatan Kepala Desa Jeruk ini. Saat ini cuaca di wilayah Pacitan dan sekitarnya masih dalam musim penghujan, namun haris mengatakan produksinya tetap tinggi.
“Kalau sering hujan yang membedakan barangnya lebih lambat habis, beda dengan kalau kemarau, tapi kita produksi per harinya tetap sama, karena kalau gak habis hari ini, paginya pasti sudah diambil pedagang,” Jelasnya.
Haris menjelaskan bahwa dalam satu ember besar janggelan bisa menghasilkan 25 kemasan mangkuk. Setiap mangkuk dijual dengan harga Rp3.000 hingga Rp4.000. Dengan produksi harian mencapai 300 ember, usaha janggelan yang Ia kelola mampu melepas sekitar 350 kilogram cincau hitam ke pasaran setiap harinya.
Keunggulan janggelan Pacitan terletak pada kualitasnya yang super. Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan daun janggelan sebelum direbus selama tujuh jam. Air rebusan kemudian dipisahkan dari ampasnya, lalu dimasukkan ke dalam cetakan hingga mengeras menjadi cincau hitam siap jual.
Momentum Ramadan menjadi peluang ekonomi bagi produsen janggelan. Selain menambah tenaga kerja, mereka juga memperpanjang jam operasional untuk memenuhi tingginya permintaan.
Dengan bahan baku yang melimpah di Kecamatan Bandar dan Nawangan, usaha janggelan di Pacitan terus berkembang pesat.
Janggelan yang dikenal sebagai jelly alami berbahan nabati ini semakin populer di kalangan masyarakat, terutama sebagai campuran minuman segar untuk berbuka puasa. [tri/aje]






