Jombang (beritajatim.com) – Para pemudik yang berencana melewati jalur alternatif Kesamben Jombang – Mojokerto harus mempertimbangkan ulang pilihan mereka. Jalur yang selama ini menjadi andalan untuk memangkas waktu perjalanan kini berubah menjadi jebakan berbahaya.
Kerusakan parah mengintai sepanjang Kecamatan Kesamben, dengan lubang-lubang besar yang bisa mengancam keselamatan pengendara.
Jalur ini biasanya menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin menghindari kepadatan di jalan tol Jombang-Mojokerto (Jomo) maupun ruas arteri. Rutenya melintasi Gedek Mojokerto, Kesamben, Sumobito, hingga Peterongan Jombang.
Namun, untuk Lebaran tahun ini, kondisi jalan yang memburuk membuat perjalanan melalui jalur ini menjadi tantangan tersendiri.
Kerusakan terparah ditemukan di depan Kecamatan Kecamatan Kesamben. Lubang-lubang besar dengan kedalaman mencapai 20 hingga 30 sentimeter dan lebar antara 70 hingga 100 sentimeter menganga di sepanjang jalan. Terlebih saat hujan, lubang-lubang ini tertutup air, membuatnya semakin sulit dihindari oleh para pengendara.
“Kalau setelah hujan malah sangat berbahaya. Lubang jalan tertutup air, jadi pengendara tidak bisa melihat adanya lubang. Itu yang sering memicu kecelakaan,” ujar Usman (56), warga setempat, Senin (17/3/2025).
Menurut Usman, jalur ini juga sangat padat pada pagi hari. Banyak orangtua yang mengantar anak sekolah serta warga yang berangkat kerja ke Mojokerto dan Surabaya. Dengan kondisi jalan seperti ini, risiko kecelakaan semakin tinggi.
Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Resah

Salah satu titik paling berbahaya berada tepat di depan Kantor Kecamatan Kesamben. Lubang besar yang sudah lama menganga di sana sering kali menjadi penyebab kecelakaan. “Lubang di depan kecamatan itu sudah lama. Tapi tidak ada tindakan dari pemerintah. Tidak ada perbaikan sama sekali,” keluh Usman.
Tak hanya itu, di sebelah selatan lubang besar tersebut, deretan lubang kecil juga menghiasi jalan hingga pertigaan Polsek Kesamben. Meski selepas Polsek Kesamben jalan lebih baik dengan rabat beton sepanjang satu kilometer hingga depan Pondok Pesantren Putri Tebuireng, kondisi buruk kembali menyambut pengendara begitu memasuki Desa Watudakon, Kecamatan Kesamben.
Di wilayah ini, lubang-lubang ‘maut’ kembali menghiasi jalan, menuntut kewaspadaan ekstra dari para pengendara. “Kalau tidak hati-hati bisa celaka,” tambah Usman.
Dengan kondisi ini, para pemudik yang hendak melintasi jalur alternatif Kesamben sebaiknya mempertimbangkan kembali rute perjalanan mereka. Keselamatan adalah prioritas utama, dan melintas di jalan rusak parah ini jelas bukan pilihan bijak tanpa persiapan ekstra. [suf]






