Malang (beritajatim.com) – Forkopimda Kota Malang melakukan sidak ke 2 pasar tradisional di Kota Malang. Mulai dari Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita, Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin, dan Kapolresta Malang Kota Kombes Nanang Haryono turut meninjau harga dan keterlambatan pasokan sembako jelang bulan ramadan 1446 H.
Amithya mengatakan ada 2 temuan yang mereka temukan saat sidak ke 2 pasar tradisional ini. Pertama sejumlah harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan mulai dari beras, minyak goreng, cabai, bawang merah dan bawang putih hingga telur ayam. Kedua ada keterlambatan pasokan yang diduga menjadi salah satu faktor kenaikan harga.
“Ada kenaikan harga dan keterlambatan pasokan. Itu yang kami temukan di pasar sekaligus melihat kondisi pasar,” ujar Amithya.
Politikus PDI Perjuangan ini menuturkan langkah yang akan diambil adalah berkoordinasi dengan Bulog terkait kebutuhan bahan pokok dan distribusi ke sejumlah pasar. Tujuannya agar masyarakat bisa dengan tenang menyambut bulan Ramadan dengan harga kebutuhan pokok yang terjangkau.
“Kami berkomunikasi dengan Bulog soal komoditi krusial yang ditemukan keterlambatan suplai, terutama minyak dan beras. Selain itu kami akan diskusikan nanti ada pasar murah,” ujar Amithya.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono memastikan, mereka akan menindak tegas para pedagang nakal yang melakukan praktik penimbunan. Mereka tidak ingin praktik penimbunan menjadi penyebab kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Kami lakukan profiling, tengkulak mana yang bermain, barangnya dari mana, akan ketahuan. Kalau nimbun, kami tidak segan-segan menindak,” ujar Nanang.
Sementara itu Wakil Wali Kota Malang Ali Muthohirin menuturkan, bahwa sidak bersama dilakukan sebagai asesmen meninjau harga di pasar tradisional jelang Ramadan. Pemkot Malang sebelumnya telah menggelar rapat guna mencegah inflasi, kenaikan harga, termasuk pasokan bahan pokok.
“Nanti ada kebijakan stabilitas ketersediaan sembako kami jaga, khususnya saat Ramadan. Kami jamin aman ketersediaannya nanti,” ujar Ali. (luc/ian)






