Surabaya (beritajatim.com) – Wacana pembentukan koalisi permanen oleh Presiden Prabowo Subianto memicu beragam reaksi, termasuk dari kalangan akademisi. Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga (Unair), Hari Fitrianto, menilai gagasan tersebut menghadapi tantangan besar di Indonesia.
Menurutnya, tidak ada salahnya jika presiden sekaligus partai merencanakan koalisi permanen dengan partai pendukung maupun pengusung.
“Tetapi dalam ekosistem politik elektoral di Indonesia, agaknya akan susah untuk direalisasi. Karena politik kita coraknya lebih ke politik koalisi yang pragmatis,” jelas Hari, Rabu (26/2/2025).
Ia menambahkan bahwa perbedaan ideologi antar partai politik menjadi kendala utama. “Koalisi permanen itu bisa terjadi jika partai-partai tersebut memiliki platform ideologi yang relatif mirip atau corak ideologinya sama. Sedangkan di Indonesia ideologi partainya tidak jelas,” ungkapnya.
Hari menjelaskan, merapatnya partai ke pemerintahan pasca pemilu didorong oleh kepentingan ekonomi.
“Sudah menjadi nature dan nurture dari partai politik di Indonesia untuk segera merapat ke kekuasaan saat pemilu sudah selesai. Mereka akan melakukan konfigurasi ulang bagaimana yang awalnya itu menjadi lawan kemudian konfigurasi ulang menjadi lawan koalisi,” terangnya.

Ia juga menyoroti lemahnya organisasi partai di Indonesia. Ia melihat, tidak ada partai yang basis keuangan partai politik dari iuran anggota. “Kebanyakan basis keuangannya disandarkan pada bagaimana kader-kadernya mengoptimalisasi nikmat-nikmat ekonomi saat di dalam kekuasaan,” sebut Hari.
Meskipun demikian, Hari mengakui adanya kemungkinan terbentuknya koalisi kuat untuk mendukung Presiden Prabowo Subianto selama satu atau dua periode pemerintahan. Namun, ia meragukan keberlanjutan koalisi tersebut.
“Agar program-program kebijakan presiden itu bisa mendapatkan dukungan di parlemen. Terutama ketika presiden menerapkan garis kebijakan yang baru, yang mengakomodasi visi misi dari presiden terpilih. Tetapi, kalau koalisi ini tetap berjalan sampai misal Prabowo melewati dua periode, saya kira itu susah untuk dibayangkan,” pungkasnya. [ipl/but]






