Banyuwangi (beritajatim.com) – Komitmen Banyuwangi dalam mewujudkan pendidikan inklusif mendapat apresiasi dari lembaga pendidikan internasional. Banyuwangi dinilai memiliki komitmen kuat dalam memberikan pendidikan setara bagi kaum difabel.
Dalam kegiatan bertajuk “Aktualisasi Sekolah Luar Biasa sebagai Pusat Sumber untuk Mendukung Banyuwangi Lebih Inklusif” yang berlangsung di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, hadir Perwakilan Perkins International Chenmin Parera, Founder Global Village Foundation Andy Bracey, Menteri PAN RB 2022-2024 Abdullah Azwar Anas, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Aries Agung, serta jajaran OPD Pemkab Banyuwangi.
Founder Global Village Foundation Andy Bracey mengapresiasi komitmen Banyuwangi yang terus memberikan perhatian besar kepada kaum difabel. “Kami sudah berkeliling ke berbagai wilayah. Sejauh ini, saya tempatkan Banyuwangi di posisi teratas sebagai daerah yang banyak menggulirkan program pro difabel,” ujarnya.
Sejak 2021, Global Village Foundation konsisten memberikan dukungan untuk penguatan program inklusif di Banyuwangi, termasuk pemberian ratusan kursi roda bagi penyandang disabilitas.
Apresiasi juga datang dari Perkins International. Perwakilan Perkins International Chenmin Parera menuturkan, pihaknya mendukung program inklusivitas di Banyuwangi melalui berbagai pelatihan bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan orang tua penyandang disabilitas, seperti pelatihan komunikasi dan cara penanganan disabilitas. “Kami sangat melihat keseriusan Banyuwangi memberikan dukungan luar biasa kepada anak-anak, khususnya penyandang disabilitas, guna mengakses pendidikan yang berkualitas,” tuturnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pendidikan inklusif telah menjadi salah satu prioritas pembangunan di Banyuwangi. Sejak 2014, Banyuwangi telah menggulirkan program sekolah inklusi dan kini terdapat 162 lembaga sekolah inklusi dari jenjang SD hingga SMP. “Kami menyiapkan sekolah inklusi yang ramah difabel, mulai dari infrastrukturnya hingga Sumber Daya Manusianya,” kata Ipuk.
Saat ini, Banyuwangi telah menyiapkan 250 guru pendamping yang tersebar di berbagai sekolah inklusi untuk mendampingi 1.147 peserta didik berkebutuhan khusus. “Pada prinsipnya, tidak boleh ada yang tertinggal dalam pendidikan. Tak terkecuali para penyandang disabilitas,” tegasnya.
Banyuwangi juga memberikan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas, termasuk membuka lowongan khusus dalam setiap Job Fair dan memberi kesempatan CPNS bagi difabel.
Kepala Sekolah SLB Negeri Banyuwangi sekaligus Education Consultant Masfufah menambahkan bahwa SLB saat ini bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga non-pemerintah untuk menginisiasi sekolah model sebagai rujukan bagi orang-orang yang ingin belajar menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) secara efektif. “Kami menggandeng lembaga internasional seperti Perkins International untuk memberikan pelatihan kepada guru dan orang tua tentang cara berkomunikasi dan menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti ASD (Autism Spectrum Disorder),” pungkasnya. [alr/beq]






