Malang (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara memiliki visi ke depan dunia pendidikan tinggi dengan bernama Catur Dharma.
Konsep ini menjadi perluasan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang selama ini menjadi pilar utama dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia.
Dengan tambahan satu pilar baru, internasionalisasi, STIE Malangkuçeçwara menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam skala global. Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin, menegaskan bahwa internasionalisasi bukan sekadar wacana, tetapi sebuah kebutuhan di era globalisasi.
“Kami sedang menggodok visi dan misi baru yang tidak hanya berfokus pada penelitian, pembelajaran, dan pengabdian masyarakat, tetapi juga bagaimana kampus ini bisa lebih berperan dalam skala internasional,” ujarnya kepada awak media, Senin (17/2/2025).
Dalam implementasinya, Catur Dharma menekankan aspek kolaborasi internasional dalam pengabdian masyarakat dan penelitian. Melalui program ini, STIE Malangkuçeçwara membuka peluang bagi mahasiswa dan dosen untuk lebih aktif dalam pertukaran akademik, magang internasional, serta penelitian lintas negara.
“Dunia akademik tidak bisa hanya berfokus pada lokal. Dengan menambah satu pilar ini, kami berharap dapat berkontribusi lebih luas dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami dinamika negara-negara Asia yang selama ini masih banyak disalahpahami,” kata Bunyamin.
Salah satu bentuk nyata dari visi internasional STIE Malangkuçeçwara adalah Program Sakura, hasil kerja sama dengan Kanda University of International Studies, Jepang. Program ini telah berjalan sejak 2002 dan terus berkembang dalam skala yang lebih luas.

Direktur Indonesian Studies Program (ISP) STIE Malangkuçeçwara, Dra. Suprapti, SPd., MPd., menambahkan bahwa kerja sama ini tidak hanya sebatas pertukaran mahasiswa, tetapi juga meliputi riset bersama dan program magang di Jepang.
“Kami telah mengirimkan banyak mahasiswa untuk belajar di Jepang, bahkan beberapa di antaranya telah bekerja di sana. Begitu pula dengan mahasiswa Jepang yang datang ke sini, mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga budaya dan nilai-nilai masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Langkah STIE Malangkuçeçwara dalam menerapkan Catur Dharma bertujuan untuk meningkatkan reputasi akademik kampus ini di tingkat global. Selain itu, kampus ini juga berencana menerbitkan karya ilmiah yang dapat menjadi referensi global, sekaligus mengoreksi berbagai bias dalam penelitian tentang negara-negara Asia.
“Saat ini, masih banyak penelitian yang bias terhadap perspektif Barat. Kami ingin memberikan sudut pandang yang lebih berimbang dengan kontribusi akademisi dari Indonesia,” tambah Bunyamin.
Dengan hadirnya Catur Dharma, STIE Malangkuçeçwara menegaskan posisinya sebagai institusi pendidikan tinggi yang siap bersaing di kancah global. Visi baru ini tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan di dalam negeri, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dan akademisi untuk berkiprah di dunia internasional. (dan/ted)






