Ngawi (beritajatim.com) – Aktivitas pembangunan pabrik PT GFT di Desa Geneng, Ngawi, menuai protes dari warga dan pengguna jalan, tepatnya di Jalan Raya Ngawi-Maospati. Ceceran lumpur dari proyek tersebut dianggap membahayakan keselamatan dan kenyamanan masyarakat. Ketika hujan, jalan menjadi licin, sementara saat cuaca panas, debu tebal mengganggu pandangan dan kesehatan.
Agung Purwikanto, warga Desa Geneng, menyatakan bahwa aktivitas proyek ini sangat mengganggu warga.
“Saat hujan, jalan licin dan memicu banyak kecelakaan, terutama pengendara roda dua. Saat panas, debu tebal sangat mengganggu. Mulai dari SPBE Geneng hingga jalan di depan PT Dadi Mulyo Sejati penuh debu,” ungkapnya.
Ia juga menyebut kecelakaan roda dua akibat kondisi ini telah terjadi lebih dari 10 kali hanya dalam beberapa jam.
Agung menegaskan, jika pemerintah daerah tidak segera mengambil tindakan, ia bersama masyarakat akan menggelar aksi demo untuk menghentikan proyek. “Kami sudah lelah menunggu tindakan dari pejabat. Kalau ini terus dibiarkan, kami akan turun ke jalan!” tegasnya.
Pun, pada Minggu (5/1/2025), terjadi kecelakaan beruntun yang berawal karena pengendara motor tergelincir saat melintas jalan yang tertutup lumpur di depan PT GFT itu.
Agus Fathoni dari Forum Ngawi Bergerak juga melontarkan kritik tajam terhadap pihak proyek. Menurutnya, pelaksanaan proyek tidak bertanggung jawab karena limbah dan kotoran tanah yang diangkut tidak ditangani dengan baik. “Sehari bisa ada enam kecelakaan roda dua di ruas jalan nasional ini. Artinya, pelaksanaan proyek ini sangat buruk,” katanya.
Menurutnya, PT GFT perlu menghentikan pembangunan pabrik sementara untuk evaluasi. Pria yang lekat disapa Atong itu menilai K3 tidak dilaksanakan dengan baik. “Intinya, harus berhenti dulu, harus dievaluasi demi kebaikan bersama,” kata Atong.
Dia juga menyoroti adanya dugaan keterlibatan oknum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setempat yang seolah-olah menjadi pendukung pihak pabrik. “Anggota DPR seharusnya mewakili rakyat, bukan bertindak seperti juru bicara pabrik,” tambah Atong.
Masyarakat meminta pemerintah daerah, khususnya Bupati Ngawi dan dinas terkait, untuk segera menindaklanjuti masalah ini. Warga mendukung investasi, tetapi dengan syarat pelaksanaannya tidak merugikan masyarakat.
“Investasi itu penting, tapi jangan sampai pelaksanaannya malah membahayakan. Kami butuh tindakan nyata, bukan pembiaran!” kata Atong.
Sugiarto, perwakilan dari proyek pembangunan PT GFT, mengaku pihaknya telah melakukan langkah pembersihan setiap hari menggunakan pompa diesel. “Kami membersihkan jalan setiap hari, bahkan menambah personil hingga malam hari,” ujarnya.
Namun, ia mengakui bahwa fasilitas pencucian jalan yang lebih canggih masih dalam proses pemesanan. “Kami sudah pesan alat pencucian yang lebih besar, tapi belum bisa dipastikan kapan datang. Sementara ini, kami maksimalkan yang ada,” jelasnya. [fiq/beq]







1 Komentar
Semoga cepat selesai biar menyerap tenaga kerja warga lokal