Magetan (beritajatim.com) – Kunjungan Wisata Telaga Sarangan selama libur Natal dan Tahun Baru 2024/2025 turun dibandingkan kunjungan masa Nataru tahun sebelumnya.
Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan, kunjungan per tanggal 20 Desember 2024 hingga 1 Januari 2025 hanya menyentuh 97.214 kunjungan. Sementara, tahun sebelumnya mencapai 129.819 di rentang tanggal yang sama.
Sejumlah warganet dalam laman beritajatim.com lantas memberikan respon terkait kabar turunnya kunjungan wisata yang didapuk sebagai primadona di Magetan itu. Salah satu faktornya adalah harga tiket masuk yang dinilai terlalu mahal.
“Tiket masuknya kemahalan. Area telaga semrawut, kelihatan kumuh. mending ke telaga ngebel,” tulis akun anonim.
“Yang pasti tiket mahal,” tulis akun anonim dalam komentar.
“Yang jelas bukan cuaca.tapi faktor tiket kemahalan,” kata akun Agus.
“Menurut saya faktor yg paling berpengaruh adalah tiket masuk. Karna yg mencapai 20 ribu per orang cukup berat untuk wisatawan. Dari pengunjung yg bisa mencapai puluhan ribu, alangkah baiknya untuk tiket masuk diturunkan bukan malah dinaikkan. Terimakasih,” kata akun anonim lain.
Selain menyorot harga tiket, netizen juga mengeluhkan sejumalh pondok wisata yang asal-asalan mengelola penginapan. Alhasil, pengunjung mendapatkan tempat yang tidak nyaman.
“Dari dulu begitu kayaknya tidak dikelola swasta. hanya dikelola pemda plus warga yg hanya butuh duitnya tp gak tahu cara melayani wisatawan/ customer. Kasusnya sama di Tawangmangu, dikelola swasta gak boleh tapi dikelola warga. Sepertinya object wisata tersebut dengan kondisi hotel melati buruk ( maaf tuk transit esek-esek aja parah masyarakat diem aja) karena BU (butuh uang),” tulis pengguna anonim lainnya.
“Saya sangat kecewa juga liburan dengn beli vocer hotel lewat traveloka, nama hotel TELAGA IIN ternyata bukan hotel,kamar seperti, hadeh. TV nggak nyala,bantal kotor seperti ngak di cuci,jendela terbuka tanpa kordeng,tidak ada air panas,tembok catnya rontok, intinya kotor sekali dan jelas bukan hotel,tetapi seperti ruamh biasa tidak terawat, itu klas 50,000,akhirnya saya terlanjur beli melalui online traveloka 2 hari 409,000. Saya kabur hanya semalam saja. Sudah bau dan nyamuk banyaksekali. Tolong dinas pariwisata juga tertibkan rumah kumuh mengatasnamakan hotel, cek aja timur pertigaan jalan besar yang mau ke telaga sarangan,tidak ada papan nama.kotor sekali disewakan hadeeh. Saya punya foto dan keadaan kamar. Ingat dan peringatan kepada rekan rekan jgn nginap di Telaga Sarangan. Kotor,” kata akun Suparjo.
“Sarangan jorok. Tgl 22, 23 kami tidur di R** Hotel. Semurah apa pun misal hotel. Tetap harus mainten. Masak pintu kamar mandi rusak di biarin, ada tulisan hot-cold water. Tp cuma cold water j. Pagi jalan keliling Sarangan,habis Subuh bau nyengat sampah di beberapa titik pinggir telaga, sampai dekat tugu telaga pun juga masih ada tumpukan sampah. Harga juga dak worth it. Harga sayuran di pasar tradisional desa kami dengan di situ juga sama. Padahal area Sarangan hingga Air Terjun Tirto Sari full perkebunan sayur. Kirain kalo di pusatnya bisa tambah murah,” kata pemilik akun Joe.
Namun, ada pula yang mengaku menginap di hotel yang nyaman, fasilitas bagus dan view yang menarik.
“Yg pasti gk semua hotel kotor,ada juga yg bagus dan terjamin bersih dengan view yang eksotik (hotel rejeki) pak. Saya pernah stay semalam disana, air panas, tempat tidur 2 bad luas, ac dingin,tv cable OK,” kata akun Moelya G.
Selain itu, netizen juga menyorot kondisi suasana pinggiran Telaga Sarangan yang dinilai kumuh karena banyaknya warung tenda. Tak hanya itu, bau sampah juga membuat mereka jengah.
“Saya sbg penikmat dan pemain wisata pun sangat tidak merekomendasikan Sarangan, kesannya kumuh, terlalu byk pedagang dan sampah,” kata akun KB.
“Kondisi sekitar telaga ramai seperti pasar malam. Baik siang atau malam. Ekspektasi saya bisa menikmati kesejukan alam seperti saat saya kecil dulu . Sekarang sudah beda. Yaa jaman berubah.. Tapi Semoga alam tetap lestari,” tulis pengguna dengan nama akun Octa.
“Sarangan penuh warung tenda kumuh, jalan menujunya mulai ngerong ke telaga banyak bagunan-bangunan baru,ada warung, kafe dan hotel sehingga menutup keindahan panoramanya. Apa bagusnya?? ljinnya juga kok begitu mudah??” kata akun Takalar.
“Pengalaman pertama datang ke telaga sarangan, Bau kotoran kuda,beli camilan mentah,nyampek rmh di olah ternyata ngak bisa di makan Cukup sekali aja datang ke telaga sarangan,” kata pemilik akun Wijayanto.
Tak hanya itu, ada pula yang mengaku diusir petugas kebersihan hingga penjual di kawasan Telaga Sarangan saat duduk di pinggiran Telaga. Ditambah, harga makanan dan minuman juga dianggap mahal.
“Sudah sewajarnya sepi,harga makanan&minuman saja diluar nulur, duduk di pinggir telaga depan warung saja diusir sama petugas kebersihan, orang lagi makan malah nyapu kasar sekali tanpa permisi&tanpa menghargai pengunjung (dikira kami sampah kali ya mau sekalian disapu) padahal kan juga beli di warung itu,katanya hotel ternyata motel(buat sholat sj tdk bisa)-> kamar mandinya terlalu sempit (buat jongkok saja tdk bisa,km kamarnya juga susah buat nafas,tempat tidurnya rusak&(kasur,bantal,guling,seprainya bau (lembab)),pokoknya gt deh. Nyesel,titik,” kata pemilik akun Ana.
“Makanan disitu juga mahal2 harganya terutama depot2/ rumah mkn nya & suasana di sarangan seperti kumuh & tdk terawat tdk seperti 6 thn yg lalu, seharusmya ada dari pemerintah daerah yg ikut andil/ turun tangan biar byk wisatawan kesana/ sarangan.Sekedar info saja,” kata pemilik akun Iwan.
Ada pula yang menuding Telaga Sarangan tak ada inovasi untuk menarik pengunjung.
“Dari dulu yg begitu2 aja kondisinya. Tdk ada inovasinya, hotel jg jual mahal. Pengunjung cm disuguhi naik boat keliling telaga, jg jasa naik kuda. Tempat kuliner harganya bnyk yg tdk bersahabat. Sarangan hanya cocok sbg tmpt ngopi2 sebentar sblm menuju Tawangmangu. Terlalu bnyk pedagang disekitar lokasi. Pemandangan jd gak menarik lagi,” kata pemilik akun Obenk.
“Saya sendiri orang madiun sudah males kalau di ajak ke sarangan. Udah tiket mahal bayar double, kuliner mahal. suguhan wisata juga itu itu saja. Mending ke telaga ngebel masih terjangkau dan murmer,” kata akun Agus Salim.
“Liburan kok ke sarangan dari namanya saja sudah kelihatan kumuh jorok becek bau sampah tk bisa nongkrong karena full orang jualan, tiket mahal parkir mahal dan TIDAK RAMAH! tempat wisata dikelola kampung ya tau sendiri seperti apa,” kata pemilik akun Tonygunawant.
“Nahh…. Bapak bapak…. Mohon pintar ya….. Berbenah… Apa kukut?? Masyarakat sudah pinter bapak bapak Jangan salahin cuaca…. Cuaca ngga bisa mbales lewat comment,” kata akun Koki.
“Saya warga Magetan sj sdh bosen ga ada inovasinya ,paling kesitu pagi sekali buat olahraga dan makan pecelnya sj, tempat duduk dikuasai pedagang, memang hotel kalau sdh di taruh di online berarti kurang laku. Pariwisata kalau banyak kan pedagangnya memang ga nyaman .. . Ayoo Berbenah,” kata akun Lia Dahlia. [fiq/beq]







59 Komentar
Sudah HTM mahal naik perahu & kuda juga mahal.. Trus apalagi kulinernya dah muahal2 dapat nya sak iprit. Mending ke ngebel udah suasananya enak. Ada air mancur joget pula..
ya sudah… ke ngebel sana. gitu aja kok repot
Pengelola e Kon sklh maneh…..biar punya pikiran inovatif
Minggu 26 Januari 2025, berwisata di Telaga Sarangan. Huaaa shock kenapa jd kumuh bangetttt.. manusia dan hewan(kuda) disatuin, bau ee kuda dan ee nya tercecer di jalan tepi telaga,tempat untuk duduk hampir tidak ada, kalaupun ada harus beli di warung yg nyedian, bahkan berdiri di depan warung pun kalau tidak beli si penjual kayak pura2 nyapu2 mgkn biar pergi.. sumpah kapokkkkk.. kalau masalah harga namanya wisata banyakan mahal apalagi hari minggu tp kalau fasilitas dan kenyamanan diperhatikan akan jd lebih baik sih
Klo kuda wajar bro, yg pemilik kuda ikut jln materi telaga, anggap aja bersedekah, gk setiap bln aja. Diniati rekreasi ya kn siap dana. Nah klo unt speedbout ini kemahalan dan pengemudix ada yg gk ramah. Kebersihan jg krg diperhatikan
Penjual juga kurang ramah. Pas beli sate di pinggir telaga, habis makan, masih posisi minum, sdh diusir, disuruh pergi aja. Wk wk wk. Tidak semua penjual begitu, namun ada yg spt itu.
Hotel hotel juga mahal. Menurutku, itu lebih pas disebut losmen, tp harga hotel.
Hanya karena telaga sarangan, makanya laku.
Tiket mahal…mau duduk ditempat duduk pinggir sarangan dikuasai pedagang…sarangan itu jual pemandangan jual apa…ayooo berbenah…pedagang harus ditata…klo bisa pinggir telaga itu free pedagang
Semrawut banyak mobil dan motor di area telaga….mestinya ada tempat parkir di luar area telaga tapi jaraknya tidak jauh…. sehingga tidak perlu naik ojek….pangkalan kuda mestinya ada tempat khusus tidak berada di tepi telaga (supaya tidak berebut konsumen bisa di buat sistim ngantri bergantian) kalau memungkinkan ada jalur untuk kuda akan lebih bagus
Saran dan masukan utk pemda magetan dan masyarakat sekitar telaga sarangan, saya pecinta sarangan tetapi 10 tahun yg lalu tetapi sekarang sdh berbeda sdh banyak bangunan hotel maupun warung makan di selitar telaga dan pinghir jalan menuju tawangmangu sehingga mengurangi keindahan dan kenyamanan wisatawan utk itu saran agar pemda mengatur tata ruang dan perijinan dg baik, kalau tdk 10 tahun yg akan datang lingkungan akan rusak suhu akan berubah menjadi panas, kumuh dan semrawut dampaknya kunjungan wisatawan akan turun dan target PAD tdk akan tercapai ayo pemda dan masyarakat sekitar telaga sarangan berbenah🙏🙏
Ora iso coment, memang kumuh
Sudah terlalu bnyk tempat wisata jadi klp turun maklumlah.
Saya kelahiran magetan, jadi malu , membaca dan mendengarkannya
SEGITU PARAHKAH
Banyak sampah dipinggir dalam telaga,lama lama bisa malas ke telaga sarangan
Wisata alam itu ya gitu banyak pedagang dikelola warga tapi tiketnya murah itu lumrahnya bgitu….gak kaya di SARINGAN eh sarangan
Tdk bisa menjaga lingkungan kebersihan kotoran sampah tdk .diperhatikan ..mahal ..karcis dobel bayar 🤣😅😆🤣😂
Biar dikelola swasta saja, pasti lbh bagus nantinya.
Wisata? Cuma Batu yang punya lengkap dan dingin! Air terjun, Jatim Park, baloga, santera de laplnte, dan hotel juga rekomendit! Dari kelas 50 rbuan juga ada di losmen melati yg bersih dan makanan juga murah!
Blitar byk wisata air.pantai bagus.tp klu mslh hotel hrs nginsp di kots dkt mkm bung karno.byk pilihan hotel.selamat berwisata di blitar
Wisata alam itu ya gitu banyak pedagang dikelola warga tapi tiketnya murah itu lumrahnya bgitu….gak kaya di SARINGAN eh sarangan
Bener sy skrg jg sdh males ke sarangan semakin sewrawut, kotor
bau n tidak ramah lagi. Pemda sepertinya sdh tdk punya power utk menertibkan penjual jasa d sarangan yg maaf mungkin gk faham akan slogan sapta pesona. Di samping minim inovasi juga dinas terkait sepertinya acuh tak acuh akan kondisi seperti n dr tahun ke tahun tdk ada penertiban. Harusnya dg naiknya harga tiket itu d barengi dg suguhan yg lebih menarik pengunjung dan sekali lg jangan lupa para pelaku wisatanya d tingkatkan SDM nya sehingga mau berbuat yg positif kpd pengunjung bukan malah yg d tonjolkan yg negatif hanya krn napsu akan uang.
Kesarangan hanya lihat orang jualan.. orang berkunjung tidak bisa menikmati tempat wisata..
Sabar
Hallo dinas pariwisata magetan…
Harusnya wisatawan segera bangun dr tidurnya knp kok msh aja ke telaga sarangan,disana semua kyk preman kesini gak bisa kesana gak bisa tertutup sama motor komunitas dan kuda,dimana” bau tai dan pipis kuda
lha trus mau bau apa? tai orang? wong emang wisata berkuda. coba ke bon bin, bau apa disana? parfum?
Betul jorok,parkir 10 rb tanpa karcis,semrawut lalu lintas kendaraan
Betul semua mahal disana.. Klu mau kesana lg kau harus berfikir berkali2
Bau kotoran kuda, sangat parah
Tiket terlalu mahal,tidak sebanding dengan yg diinginkan pengunjung/ wisatawan,kurang inovasi jorok dan bau..
Bersih kok. Kemarin tgl 26 des 2024 kesana.
setuju borny
Biasalah persaingan pariwisata
Tapi kemarin kesitu, masuk malam th baru gratis, tak mungkin ada nyamuk wong pegunungan, lalat juga tak ada yg buat saya heran. Saya keluar parkir cuman lima rebu. Wisata segitu kok dikata mahal, ah entahlah mau harga berapa.
ya begitulah kaum mendang mending, budi hari..
ratusan kali kesana nggak pernah ketemu nyamuk. kelihatan o,on nya ya
Sarangab itu seperti Blumbang Raksasa ….. Hilang keistimewaannya .. alaminya hilangnya hilang…kumuh..jorok..todak menarik ditambah Jalan sekellling sudah sempit… masih ditapmbah pedagang pinggir jalan yang padat sehingga mengirangi kecantikan obyek wisata ..harga tiket masuk terlalu mahal 20rb…si obyek wisata lain hanya kisaran 7rb pae 10rb….Segera berbenah turunkan harga tiket masuk dan kosongkan pedagang dinsekitaran Blumbang Raksasa ..stop lalu lalang penjaja kuda…bikinkan tempat khusus bagi pedagan… jalan sekeliling blumbang khususkan untuk jalan kaki bagi wisatawan ..agar.l bisa menjadi Telaga Sarangan yang seperti dulu kembali…sejuk indah cantik alami
Di sarangan banyak mafia sulit utk maju
Tidak seindah dulu,kalau dulu memang sperti yg dinyanyikan “Teduh sunyi damai tenang”. Sekarang..
.
Comment di atas setuju sekali
Saya ke sana seklrga hari sabtu cari sepi
Tenyata bertahun2 nggak ada inovasi
Ngobrol sama guide naik kuda
Dr tahun2 ke tahun setiap kesana tak berbenah
Yg hilang pridenya itu warung2 tenda yg tak indah di pandang sepanjang rute berkuda
Mau nginep hotel dpn pintu masuk yg hotel warna putih 3 lantai nggak jadi
Liat bed sama furniture nya sdh tdk mood
Beli Sayur2 an buat oleh2 org rumah
Mahalllll
Smg pemerintah bisa mengelola dan mengembalikan pride icon sarangan spt t4 wisata lainya
Spt Malang or Magelang
Penjual satenya yang kaki lima tusukan sate kelinci nya bekas di pakai lagi .ada bekas Bakaran hitam pahal sate masih mentah terlanjur pesan ya di bayar aja
Hati hati tusuk sate bekas penjual sate kelinci
Tahun 2000 kami yg tinggal di Banten ke telaga sarangan sangat alami dan indah. Th 2024 ajak anak2 kesana. Kondisinya sangat kecewa banyak sekali tenda pedagang sekeliling danau. Kesannya kumuh. Hotelnya yg bagus sangat sedikit. Yg agak bagus pasang tarifnya mahal².
Ya setuju memang warga tau nya cari uang tidak memikirkan penggunjung bayar mahal…taunya gaya dapat duwut saja .. ayo singikr kan orang jualan yang semrawut pak
Ora iso coment, memang kumuh
Pedagang ditata yg rapi.Kemudian pinggiran telaga biarkan utk tempat wisatawan duduk menikmati telaga sarangan.Kalau semua dikuasai pedagang terus buat apa ke telaga sarangan tapi gak bisa menikmati keindahannya ???
Banyak tempat wisata yg menaikan tiket masuk akhirnya sepi pengunjung.Termasuk wisata Bromo.
Di wisata merapipun sama,dulu gak ada mobil pengantar,setiap mobil bisa naik keatas,tapi sekarang dibuat kayak dibromo.
Dan seharusnya itu perahu disediakan jaket pelampong, biar ada usaha sefety, yaa…jaga2
Pakai jaket pelampong, biar lebih safety,
Blitar byk wisata air.pantai bagus.tp klu mslh hotel hrs nginsp di kots dkt mkm bung karno.byk pilihan hotel.selamat berwisata di blitar
Sarangan SEGERA BERBENAH,jangan sampai timbul penilaian tidka baik dari masyarakat,dari segi kebersihan,tata tertib pengaturan pedagang pinggir telaga,yang semakin makan jalan,sehingga pejalan kaki tidak nyaman,tiket masuk perlu ditinjau lagi,destinasi wisata yang perlu ditambah disekitar sarangan,tarif hotel terlalu mahal,tidak sesuai dengan fasilitas yang diberikan,sampah kotoran kuda yang numpuk tidak segera dibersihkan ditempat penampungan kotoran kuda,semoga sarangan segera berbenah dengan partisipasi masyarakat dan dinas yang terkait
Tiketnya nggak mahal cuma pelit pengelolaannya
Hotel rezeki bersih, ramah & nyaman
Hotel rezeki bersih, ramah & nyaman
Dulu byk wisatawan asing karena sarangan memang view nya indah, sejuk, nyaman dan udaranya segar. Tapi sekarang??? Beda Jauhhh!!! Mana ada wisatawan asing kesana, karena bironya pun sudah tidak merekomendasikan kesana… Tiket mahal, suasana kurang nyaman, ga ada tempat untuk duduk menikmati pemandangan, karena konsep skrg pengunjung disuruh jalan², berdiri, kalo capek biar duduknya masuk di warung² (warungnya kan jd laku). Maaf ya itu sepengetahuan saya (turis yg saya maksud salah satunya adalah keluarga kami yg dtg dr LN)
Dulu byk wisatawan asing karena sarangan memang view nya indah, sejuk, nyaman dan udaranya segar. Tapi sekarang??? Beda Jauhhh!!! Mana ada wisatawan asing kesana, karena bironya pun sudah tidak merekomendasikan kesana… Tiket mahal, suasana kurang nyaman, ga ada tempat untuk duduk menikmati pemandangan, karena konsep skrg pengunjung disuruh jalan², berdiri, kalo capek biar duduknya masuk di warung² (warungnya kan jd laku). Maaf ya itu sepengetahuan saya (turis yg saya maksud salah satunya adalah keluarga kami yg dtg dr LN)
Ea mungkin saya setuju. Dgn sgala keluh kesah pengunjung, sekali saya kesarangan banyak sampah dan bau banget… Masak air cucian dar warung juga toilet larinya ke telaga. Itulah yg bikin jd rusak pemandangan… Kalo harga penginapan katanya melati 2 malam 600 rb, sdh kayak hotel mewah jadi terasa mahal….
Obyek hanya naik spedd itu pun sangat mahal… Sekali putaran 80 rb pdhal minyak 1 liter bisa 5 kali putaran hadeh….. Males jdnya… Pemandangan juga jadi bau ndak sedap got dan sampah..
Klo sy tipe orang yg fleksibel, klo dl sama skrg di semua tempat wisata pst beda jauhkan, secara cuaca, trus penduduk semakin bertambah, otomatis memengaruhi kondisi suatu tempat, misal ke batu mlg, dl dr sby sampai kbn raya cuaca kota Batu sdh terasa, dingin telinga budeg, skrg kt Batupun panas. Sy klo ke sarangan ya sy nikmati apa adax dg ciri khas yg ada, intix klo diniati ke sarangan ya sdh terbayang apa adax disana, jd klo kt rekreasi tujuan kt ya sesuaikan dg yg kt inginkan dan hrs tau tmpt yg sesuai harapan. Aku setahun 2x ke sarangan sgt menikmati krn sdg menginginkan suasana sana, hy thn ini sepi biasax jg ramai sampai macet total, unt tiket dari thn 2015 yg aku tahu tetep 20 rb yg sy kritik penginapanx kemahalan, ngala2hin jogja. Tlg diperhatikan biaya penginapan apa lg cm mlm minggu aja sdh 2x lipat, apa lg lebaran n nataru. Kebersihan jg diperhatikan.
Satu kata utk Sarangan “KUMUH”
Area sekeliling telaga kalau bisa dibuat full pedestrian steril dr lalu lalang mobil, motor, pasti akan lbh menarik. Gak spt sekarang yg semakin sangat semrawut.
Harusnya pemerintah magetan memperhatikan segi kenyamanan dan kebersihan telaga sarangan dong jadi pengunjung ngk kecewa seperti ini …padahal sarangan itu penyumbang pendapat daerah terbesar lo ,masa iya tatakelola sampah masih ambur adul begini ,faktanya banyak TPS3R di magetan mati suri karena kurang bagus pengelolaannya. Padahal tinggal belajar dari kab ,sebelah yg sudah bisa kelola sampah . Jangan sampai masalah ini jadi Bom waktu nantinya karena berdampak luas
Sangat di sayangkan citranya,dulu di sanjung,sekarang di tendang,kalau punya telinga pasti bangkit, cari solusi,utamakan tamu wisatawan,jangan utamakan cari makan tuk diri sendiri, tanpa ada rasa peduli…. Karena tempatnya yg sempit pusatkan para pedagang di suatu pusat jualan agar TDK mengganggu kenikmatan para wisatawan ….. Dlm berwisata….. Tiket logis harganya seperti itu…. Yg penting utamakan pelayanan ,wahai Magetan ….. Soooo….pasti