Lamongan (beritajatim.com) – Batik Singo Mengkok, salah satu koleksi bersejarah Museum Sunan Drajat Lamongan, menjadi sorotan dalam “Seminar Hasil Kajian Koleksi Museum” yang digelar oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Lamongan. Seminar ini menghadirkan dua pakar, Siswanto, Periset Arkeologi, dan Camella Sukma Dara, Arkeolog sekaligus Direktur Kailasa Kreasi Nusantara, untuk mengupas nilai filosofis yang terkandung dalam motif batik berusia ratusan tahun ini.
Camella mengungkapkan bahwa Batik Singo Mengkok, yang dihibahkan ke museum oleh Sukandar—anak angkat Mbah Cokrokusumo, keturunan Sunan Drajat—memiliki nilai sejarah dan filosofis yang tinggi. Kain batik ini diperkirakan berasal dari abad ke-18, namun kondisinya kini sangat rentan akibat usia yang telah menua.
Batik Singo Mengkok memiliki empat motif utama, yakni:
- Motif Singa: Melambangkan kebijaksanaan dan menjadi simbol penangkal sifat serta perilaku buruk. Motif ini diambil dari ukiran pada Gamelan Singo Mengkok, khususnya pada alat musik gender yang juga menjadi koleksi museum.
- Motif Mahkota: Menggambarkan kekuasaan, kenegaraan, dan pemerintahan pada masa kerajaan, mencerminkan kejayaan masa lalu.
- Motif Garuda: Berarti hasta brata, ajaran kebijaksanaan yang menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.
- Motif Kubah Masjid: Perlambang keimanan, keyakinan, dan keesaan Allah, mewakili hubungan vertikal (hablumminallah) dan horizontal (habluminannas) dalam kehidupan manusia.
“Motif-motif ini memiliki makna mendalam, mencerminkan ajaran luhur Sunan Drajat yang mengutamakan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan dan sesama,” ujar Camella.
Melihat kondisi fisik batik yang semakin rapuh, Camella menekankan pentingnya konservasi filosofis dibanding fisik. “Kami ingin nilai-nilai dari motif ini tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi muda. Harapan kami, Batik Singo Mengkok dapat diusulkan menjadi warisan budaya khas Lamongan,” tuturnya.
Seminar ini menjadi langkah nyata untuk melestarikan warisan budaya Lamongan, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga dan menghargai sejarah yang terkandung dalam seni tradisional seperti Batik Singo Mengkok. [fak/beq]






