Ponorogo (beritajatim.com) – Hujan deras yang mengguyur kawasan Ponorogo selama lebih dari enam jam pada Jumat (29/11) kemarin, nampaknya memicu tanah longsor di Dukuh Guwo, Desa Wonodadi, Kecamatan Ngrayun. Longsor tersebut menyebabkan 2 rumah warga setempat mengalami kerusakan, akibat material tanah longsor yang menerjang pemukiman tersebut.
“Hujan deras yang terjadi pada Jumat kemarin, memicu terjadinya tanah longsor di Kecamatan Ngrayun. Akibatnya 2 rumah di Desa Wonodadi terdampak oleh bencana tanah longsor tersebut, ” kata Kapolsek Ngrayun, Iptu Joko Triyono, Sabtu (30/11/2024).
Iptu Joko Triyono menjelaskan bahwa tebing di sekitar permukiman warga, tidak mampu menahan debit air hujan yang tinggi. Alhasil, 2 rumah yang terdampak adalah milik Setu dan Kamto, yang berlokasi di RT 03 RW 01 Dukuh Guwo.
Tebing setinggi 4;meter di salah satu sisi rumah milik Setu longsor. Bencana itu akhirnya menyebabkan tanah setinggi 1 meter masuk ke dalam rumah. Kerusakan akibat tanah longsor ini, diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp5 juta. “Tanah yang longsor menghantam sisi rumah Pak Setu. Sehingga tanah masuk dan sebagian besar interior rumah tertutup material tanah,” ungkap Joko.
Sementara itu, rumah milik Kamto mengalami kerusakan yang lebih parah. Tebing setinggi 5 meter di sisi selatan rumah juga mengalami longsor. Kejadian tersebut membuat tanah setinggi 2 meter dan sepanjang 4 meter menghantam dapur rumah, yang terbuat dari papan. Hantaman tanah longsor itu, membuat bangunan dari papan itu roboh. Kerugian yang dialami Kamto diperkirakan mencapai Rp15 juta.
Meski kerusakan materiil cukup besar, warga bersyukur karena bencana ini tidak menimbulkan korban jiwa. Kamto, salah satu warga terdampak, mengungkapkan rasa terima kasih atas bantuan dan solidaritas dari warga sekitar.
“Alhamdulillah, kami sekeluarga selamat. Bantuan sembako dan kerja bakti warga membersihkan material longsor sangat membantu kami. Terima kasih banyak,” kata Kamto.
Kapolsek Ngrayun bersama jajaran kepolisian dan warga sekitar langsung bergerak cepat memberikan bantuan sosial berupa sembako dan melakukan kerja bakti membersihkan material longsor. Gotong royong warga menjadi bentuk nyata solidaritas dalam menghadapi bencana ini. Pun kepolisian dan perangkat desa juga mengimbau warga yang tinggal di dekat tebing atau lereng curam untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat curah hujan tinggi.
Potensi longsor di kawasan rawan harus diantisipasi guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang. “Solidaritas seperti ini menunjukkan kekuatan masyarakat kita dalam bergotong royong. Semoga warga yang terdampak segera pulih dan mendapatkan bantuan lebih lanjut,” tutup Iptu Joko. (end/kun)






