Surabaya (beritajatim.com) – Hari pencoblosan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lamongan makin dekat. Tinggal 15 hari lagi. Tingkat keterpilihan Cabup Lamongan Yuhronur Effendi (Yes) dan Cawabup Dirham Akbar (Dirham) makin mantap dan kuat.
Merujuk survei ARCI yang dirilis pada Senin (11/11/2024) kemarin, tingkat elektabilitas pasangan Yes-Dirham pada Juli 2024 sebesar 52,6 persen, di September 2024 dengan 59,3 persen, dan November 2024 naik menjadi 61,7 persen. Secara konsisten, duet cabup dan cawabup ini memperoleh dukungan politik yang terus naik.
Sedang kompetitornya, pasangan Abdul Ghofur dan Firosya Shalati, tingkat elektabilitasnya pada Juli 2024 dengan 16,9 persen, September 2024 dengan 30,5 persen, dan November 2024 dengan 34,2 persen. Kendati persentase kenaikan elektabilitas pasangan ini terus merambat, namun demikian, peluang mereka untuk bisa menyalip atau melampaui duet Yes-Dirham sangat berat. Sejak Juli sampai November 2024, elektabilitas Ghofur-Firosya tak pernah melewati Yes-Dirham.
Hal itu didasarkan temuan survei ARCI, di mana persentase pemilih loyal dan militan dari duet Yes-Dirham jauh lebih besar, lebih tinggi, dan lebih mantap dibanding pemilih loyal duet Ghofur-Firosya. Pemilih loyal dan militan ini yang sangat kecil kemungkinan mengubah pilihan politik di hari pencoblosan pada 27 November 2024 mendatang.
Data survei ARCI dengan jumlah responden sebanyak 1.000 orang, pada periode survei 30 Oktober sampai 7 November 2024, dengan margin of error 3,5 persen, tingkat kepercayaan 95 persen, dan survei dilakukan dengan metode stratified multistage random, menunjukkan bahwa dari elektabilitas Yes-Dirham yang menyentuh 61,7 persen, sebanyak 81 persen di antaranya merupakan strong voter, sedang 16 persen adalah swing voter.
Realitas strong voter pemilih Yes-Dirham jauh lebih tinggi dan lebih kuat dibanding strong voter Ghofur-Firosya. Dengan tingkat elektabilitas politik Ghofur-Firosya yang menyentuh angka 34,2 persen pada survei November 2024 ini, sebanyak 39,1 persen di antaranya merupakan strong voter dan 60 persen adalah swing voter.
Angka swing voter Ghofur-Firosya jauh lebih tinggi dibanding dengan strong voter-nya. Artinya, pemilih Ghofur-Firosya peluang beralih memilih pasangan lain jauh lebih besar dan lebih tinggi. Karena itu, angka elektabilitas pasangan ini rawan turun dibanding duet Yes-Dirham.
Di sisi lain, kemungkinan pemilih Yes-Dirham beralih memilih Ghofur-Firosya peluangnya lebih kecil. Sebab, tingkat persentase strong voter Yes-Dirham jauh lebih tinggi dibanding swing voter-nya.
Selain itu, biasanya swing voter itu di hari-hari akhir menjelang pencoblosan umumnya bersikap rasional. Maksudnya, mereka lebih sreg dan lebih nyaman menjatuhkan pilihan kepada pasangan yang berpeluang besar memenangkan kontestasi politik vis a vis pasangan yang peluang menangnya sangat berat dan kecil.
Karena itu, tak menutup kemungkinan di hari pencoblosan nanti elektabilitas politik duet Yes-Dirham lebih tinggi dibanding hasil survei yang disampaikan ARCI pada Senin (11/11/2024) kemarin. Tentunya, menjelang hari H pencoblosan, dinamika politik di lapangan makin tinggi dan pasangan cabup-cawabup yang bertarung bekerja all out memenangkan kontestasi.
Kinerja Pak Yes
Terjun di ajang Pilkada Lamongan 2024 sebagai petahana, Yuhronur Effendi (Pak Yes) telah menorehkan kinerja selama 3,5 tahun di Pemkab Lamongan. Politikus berlatar belakang birokrat ini kenyang asam garam birokrasi lokal Lamongan.
Sebelum terpilih sebagai Bupati, Pak Yes lama menjabat sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Lamongan. Sebagai Sekdakab Lamongan, Pak Yes adalah birokrat dengan pangkat dan eselon tertinggi. Dia menjadi ‘koki’ administratif Bupati M Fadeli (almarhum).

Jauh sebelum itu, sejumlah posisi birokrasi bersifat strategis pernah ditempati Pak Yes. Dengan tour of duty yang paripurna di birokrasi lokal Lamongan, Pak Yes tak membutuhkan tempo lama untuk memitigasi dan memapping Lamongan secara multiperspektif. Dia paham peluang dan tantangan Lamongan saat ini dan di masa depan.
Kabupaten Lamongan punya positioning strategis dalam konteks kedaulatan dan stabilitas pangan secara luas. Tak hanya padi dan komoditas hasil pertanian lain yang dihasilkan Lamongan. Sektor peternakan, perikanan, dan industri manufaktur juga telah merambah Lamongan. Sehingga Lamongan sebagai buffer zone Kota Surabaya mulai memperlihatkan peran dan fungsinya secara praksis dan riiil di lapangan sosial ekonomi.
Data yang ada menyebutkan, di sektor pangan, khususnya padi (beras), pada 2023 tingkat produksi padi Lamongan mencapai 798,70 ribu ton gabah kering giling (GKG). Tingkat produksi padi sebesar ini menempatkan Lamongan sebagai produsen GKG terbesar di Jatim. Di bawah Lamongan, ada Kabupaten Bojonegoro dan Ngawi. Besaran GKG itu ketika dikonversi ke beras menjadi 461,19 ribu ton.
Bagaimana dengan kedelai? Komoditas hasil pertanian ini jumlahnya cukup besar di Lamongan. Pada 2020, tingkat produksi kedelai Lamongan sebesar 8.875 ton, meningkat menjadi 9.406 ton pada 2021, dan terus tumbuh sebesar 10.412 ton pada 2022. Pertumbuhan produksi kedelai di Lamongan bergerak secara inkremental. Tak bisa digenjot secara cepat dan besar-besaran. Apalagi luasan areal tanaman kedelai di daerah ini sedikit mengalami penyusutan.
Demikian dengan sektor peternakan, khususnya sapi potong. Pada tahun 2022, tingkat populasi sapi potong di Lamongan sebanyak 115.107 ekor. Tingkat populasi sapi sebanyak itu termasuk kategori besar di Jatim. Pada 2023, populasi sapi di Jatim sebanyak 5,07 juta ekor. Sejumlah kabupaten di Jatim dengan tingkat populasi sapi tinggi, di antaranya Kabupaten Sumenep dengan 381.104 ekor, Tuban dengan 345.571 ekor, Probolinggo dengan 312.361 ekor, dan lainnya.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Lamongan, realisasi produksi perikanan tangkap tahun 2022 sebesar 48.978 ton. Sedang realisasi produksi perikanan budidaya sebesar 62.754 ton.
Yang penting digarisbawahi di sektor perikanan ini adalah di Lamongan ada dikenal adanya Kampung Kerapu. Lokasinya berada di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong. Kampung Kerapu ini mampu meraih omset Rp200 miliar per tahun dari budidaya ikan kerapu.
Budidaya ikan kerapu terus dipertahankan dan dikembangkan Pemkab Lamongan di desa ini. Yuhronur mengatakan, meski banyak yang ingin mendirikan industri di Labuhan, namun Pemkab Lamongan akan terus mempertahankan Labuhan sebagai kawasan budidaya perikanan.
“Ini sekaligus makin menguatkan brand Kampung Kerapu di Desa Labuhan, sehingga lebih dikenal luas. Kita lihat harga ikan kerapu itu mencapai Rp100 ribu per kilogram, bayangkan satu kolam itu mendapatkan sekitar Rp300 juta setiap panen, panennya setiap 7 bulan sekali. Pendapatan warga makin meningkat. Poin itu yang mesti kita jaga dan tingkatkan dari tahun ke tahun,” tegas Pak Yes.
Sumbangsih dan kontribusi besar Lamongan di sektor kedaulatan dan stabilitas pangan telah menjadi catatan sejarah penting bagi daerah ini, Jatim, dan Indonesia. Pak Yes sebagai orang pertama di Lamongan menyadari betul bahwa jadi pemimpin Lamongan berarti memikul tanggung jawab sejarah untuk memperhatikan sektor pertanian dalam arti luas.
Pertanian di Lamongan bukan sekadar instrumen sosial ekonomi untuk menghasilkan pangan bagi rakyat setempat. Tapi, pertanian itu menjadi hajat hidup orang banyak, baik mereka yang berada di dalam dan di luar Lamongan. Pertanian di Lamongan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat di daerah ini.
Karena itu, sektor pertanian di Lamongan jadi bagian strategis menggapai kedaulatan pangan nasional. Ekspektasi politik pangan bersifat strategis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. [air]






