Magetan (beritajatim.com) – Kabupaten Magetan merupakan salah satu daerah penghasil sayuran terbesar di kawasan Madiun Raya dan Jawa Timur. Berbagai jenis tanaman sayuran dibudidayakan di wilayah ini, dengan luasan lahan yang signifikan.
Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Magetan, tanaman daun bawang mendominasi dengan luas lahan mencapai 1.465 hektar per tahun. Selanjutnya, terdapat komoditas wortel (1.063 hektar), cabai keriting (881 hektar), bawang merah (350 hektar), tomat (315 hektar), sawi (470 hektar), kubis (440 hektar), kentang (375 hektar), bunga kol (470 hektar), buncis (330 hektar), cabai besar (200 hektar), terong (200 hektar), cabai rawit (135 hektar), dan labu siam (90 hektar).
Magetan tidak hanya menghasilkan sayur untuk konsumsi lokal. Produk Magetan juga memasok kebutuhan sayuran ke luar daerah.
Kepala DTPHP Magetan, Uswatul Chasanah, menjelaskan bahwa pihaknya aktif memberikan pendampingan kepada para petani hortikultura. Program-program ini meliputi pelatihan guna meningkatkan produksi serta bantuan sarana dan prasarana.
“Kami memberikan bantuan berupa bibit, pupuk organik, hingga sarana infrastruktur seperti jalan usaha tani dan jaringan irigasi ke lahan sayur. Langkah-langkah ini diambil demi meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas harga di tengah fluktuasi pasar yang kerap terjadi,” ujarnya.
Pemerintah juga secara berkala memberikan bantuan kepada petani cabai setiap dua bulan sekali guna mengatasi inflasi harga cabai. Fluktuasi harga menjadi salah satu tantangan besar bagi petani sayur. Ketika harga sayur meroket, pendapatan petani ikut meningkat.
Namun, ketika harga jatuh, mereka kerap menghadapi kesulitan dalam menutupi biaya produksi. Menurut Uswatul, kondisi harga yang tidak stabil ini menjadi kendala utama, terutama bagi tanaman sayuran yang masa panennya bergantung pada kondisi iklim dan cuaca.
Tidak hanya soal harga, iklim yang tidak menentu juga menghambat produktivitas petani di Magetan. Curah hujan yang tinggi atau perubahan cuaca mendadak kerap mengundang serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang berpotensi merusak tanaman.
Hingga saat ini, produk sayur dari Magetan belum berhasil menembus pasar ekspor, namun distribusinya telah menjangkau berbagai wilayah di luar Magetan.
Di kawasan lereng Gunung Lawu, khususnya Desa Plumpung di Kecamatan Plaosan, sejumlah petani fokus mengembangkan tanaman hortikultura, seperti kubis, bunga kol, daun bawang, dan bawang merah.
Agus Yulianto, ketua Kelompok Tani Maju di Desa Plumpung, menjelaskan bahwa sejak 2019, masyarakat setempat semakin berminat dalam bertani hortikultura karena kebutuhan pasar yang tinggi serta iklim yang mendukung.
“Alasan lain yang mendorong kami menekuni budidaya sayur adalah karena prospeknya yang cukup menguntungkan. Meski demikian, pendapatan petani sangat bergantung pada harga di pasar,” ujar Agus.
Agus menyoroti bahwa tantangan sebagai petani hortikultura cukup kompleks, mulai dari pengelolaan hama hingga manajemen lahan. Petani harus memiliki strategi dan riset yang baik, misalnya dalam memilih pupuk atau pestisida yang sesuai agar hasil panen tetap berkualitas.
Di sisi lain, biaya sewa lahan pertanian juga tinggi, yang menambah beban produksi petani. Menurut Agus, petani berharap ada acuan harga dari pemerintah untuk menjaga kestabilan pendapatan.
“Jika ada harga acuan, petani, terutama petani milenial, akan lebih bersemangat. Namun saat harga jatuh, banyak petani merasa kurang mendapat perhatian. Kami berharap pemerintah bisa lebih tanggap terhadap kondisi ini,” pungkasnya.
Dengan potensi yang besar, sektor hortikultura di Magetan memerlukan perhatian serius. Upaya peningkatan kualitas produksi, stabilitas harga, dan dukungan infrastruktur yang memadai diharapkan dapat memperkuat posisi Magetan sebagai lumbung sayur di Jawa Timur. [fiq/beq]






