Banyuwangi (beritajatim.com) – Ratusan penyair dan penulis dari seluruh Indonesia melakukan Jambore Sastra di Banyuwangi. Menariknya, Jambore ini juga diikuti oleh peserta dari luar negeri khususnya di Asia Tenggara.
Mereka berkumpul dengan wadah satu agenda meluncurkan antologi puisi. Hasilnya, berisi dari karya 200 penyair di Jambore Sastra tersebut.
Hadir dalam Jambore ini, di antaranya Zawawi Imron yang dikenal juga sebagai Si Celurit Emas. Kemudian, ada Wayan Jengki Sunarta dengan karyanya yang dihormati berjudul Jumantara yang meraih Anugerah Buku Puisi Terbaik pada 2021.
Sastrawan Mohamad Saleeh Rahamad dari Malaysia tampak hadir. Dia merupakan seorang profesor di Universiti Malaya yang juga Presiden Persatuan Penulis Nasional Malaysia (PENA) sejak 2010.
Rohani Din seorang penulis asal Singapura juga turut hadir pada Jambore ini. Dia termasuk penulis yang produktif telah menghasilkan banyak karya prosa dan puisi. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Novel “Diari Bonda” yang hadir dalam empat sekuel.
Beragam kegiatan kesastraan mewarnai Jambore Sastra di Banyuwangi ini. Di antaranya adalah Penyair Goes to School untuk mengenalkan berbagai aktivitas dan karya sastra kepada pelajar dan Seminar Sastra.
“Kami berterima kasih atas kehadiran para sastrawan dari seluruh Indonesia dan Asia Tenggara yang telah hadir di kegiatan Jambore Sastra Asia Tenggara di Banyuwangi. Kehadiran semua sastrawan di Banyuwangi sangat berarti bagi pengembangan sastra lokal juga pengenalan budaya daerah ke kancah yang lebih luas,” kata Plt. Bupati Banyuwangi Sugirah.
Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Banyuwangi Guntur Priambodo menyebut, kegiatan Jambore sastra diawali dengan pembukaan dan gala dinner yang dihadiri 200 penyair dan penulis di Pendopo Sabha Swagata. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Malayssia dan Singapura.
“Jambore Sastra ini bukan hanya sekedar pertemuan pecinta sastra, tapi wadah untuk merayakan keragaman budaya dan kekayaan bahasa di Asia Tenggara. Juga untuk berbagi rasa, pengalaman dan kebijaksanaan,” kata Guntur.
Guntur mengatakan Pemkab Banyuwangi rutin menggelar festival sastra sebagai upaya untuk menghidupkan kecintaan pada sastra di kalangan pelajar dan warga. Seperti festival sastra tahun 2024 yang menampilkan dan mengkompetisikan sastra tidak hanya berbahasa Indonesia, namun juga sastra berhahasa Using, Jawa, dan Bahasa Inggris.
“Festival sastra kita gelar bukan hanya perayaan karya sastra, tapi juga momen penting merenungkan kembali bagaimana sastra berperan dalam merevitalisasi bahasa daerah,” kata Guntur.
Salah sastrawan asal Malaysia, dari Malaysia salah satunya hadir Sastrawan Mohamad Saleeh Rahamad menjelaskan jika hadir di Banyuwangi menjadi salah satu kebanggan dan momen yang dinantikan.
“Bertemu dengan para penyair antar negara untuk berbagi pengalaman yang berharga,” kata Mohamad Saleeh Rahamad.
Ia juga berkesempatan membacakan puisinya dalam buku antologi Puisi “Ijen Purba” dengan judul “Lelaki-Lelaki Perkasa Banyuwangi”.
Acara pembukaan tersebut juga sekaligus dirangkai dengan peluncuran buku Antologi Puisi Jambore Sastra Asia Tenggara “Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu”.
“Buku antologi puisi tersebut tersebut berisi karya 200 penyair yang hadir di Banyuwangi pada Jambore ini,” ungkap Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri.
Sementara itu, tema “Ijen Purba: Tanah, Air dan Batu” dipilih karena Gunung Ijen sudah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark pada tahun lalu. Ini adalah salah satu cara Banyuwangi untuk mengenalkan Geopark Ijen lebih luas ke manca negara lewat jalur sastra. (rin/ian)






