Surabaya (beritajatim.com) – FEB Unitomo (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dr Soetomo) Surabaya sukses menggelar konferensi internasional pertama, 1st International Conference on Economics, Business, Entrepreneurship, Management, and Accounting (ICEBEMA) 2024, pada Sabtu, 25 Oktober 2024.
Acara ini diadakan di Auditorium Ki Moh Saleh dengan tema “Driving Innovation and Sustainable Business in Green Economy Era Through Digital Entrepreneurship.”
Konferensi hybrid ini memfasilitasi partisipasi akademisi dan praktisi dari dalam dan luar negeri, menampilkan narasumber dari Malaysia, Filipina, India, dan Thailand. Di antara tamu undangan adalah Ketua Umum IDEI, Hary Soegiri, dan rektor universitas terkemuka di Indonesia.
Dari pembicara, hadir tokoh penting seperti Sandiaga Salahuddin Uno dan Emil Elestianto Dardak dari Indonesia, serta Sam Toong Hai dari Malaysia dan Aman Agarwal dari India. Kehadiran mereka memberikan wawasan berharga tentang inovasi dan ekonomi hijau.
Rektor Unitomo Prof Siti Marwiyah berharap ICEBEMA dapat menjadi agenda tahunan yang mendukung kolaborasi global. “Ini langkah besar bagi FEB Unitomo untuk lebih dikenal dalam komunitas akademik internasional,” katanya.
Sedangkan FEB Unitomo Prof Sukesi melaporkan tingginya partisipasi dengan 211 artikel dan 436 peserta. Ia berkomitmen untuk menjadikan konferensi ini sebagai agenda rutin dan mendorong peningkatan kualitas penelitian.
“Dari acara ini, saya berharap ke depan para penulis peneliti terus meningkatkan kualitas dan kuantitas tulisan mereka, yang tentunya akan berdampak positif pada ICEBEMA mendatang,” tuturnya.
Kemudian, Peserta dari Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai Dr Trisnowati mengungkapkan bahwa konferensi ini sangat menginspirasi dan membuka peluang kolaborasi.
Menurutnya, keberhasilan acara ini mengukuhkan FEB Unitomo sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu ekonomi di tingkat internasional.
Sementara Emil Dardak dalam paparannya menekankan pentingnya tata kelola perusahaan dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas, serta perlunya sistem audit yang adaptif untuk menghadapi risiko di era digital.
“Perubahan teknologi mengharuskan audit dan pengawasan internal untuk beradaptasi agar tetap relevan. Sistem audit digital yang responsif dan adaptif bisa membantu perusahaan dalam mengidentifikasi potensi risiko lebih cepat,” ungkapnya. [ipl/suf]






