Magetan (beritajatim.com) – Hartono, seorang petani jagung di Desa Pragak, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, mengungkapkan keresahannya terkait penurunan harga jagung tahun ini.
“Harga jagung tahun ini mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun lalu. Tahun kemarin, harga jagung mencapai Rp9.000 per kilogram, tetapi sekarang hanya Rp4.400,” jelasnya, Sabtu (19/10/2024)
Hartono menjelaskan bahwa hasil panen jagung tahun ini sebenarnya sangat baik. Namun, ia menyayangkan harga yang justru semakin menurun.
“Kami para petani merasa terpukul dengan harga yang anjlok. Kenapa harga jagung bisa turun sebegitu drastis?” tambahnya.
Menurut Hartono, para petani tidak mengetahui alasan pasti di balik penurunan harga ini, karena mereka hanya memasok langsung ke pengepul.
“Setiap hari, harga jagung semakin menurun. Bahkan, saat ini hanya Rp4.400 per kilogram,” katanya.
Di sisi lain, biaya produksi yang harus ditanggung oleh para petani sangat tinggi.
“Biaya pupuk saja sudah mahal. Selain itu, kami menggunakan pompa air dari sumur yang juga membutuhkan biaya besar. Belum lagi biaya untuk panen dan tanam yang harus dikeluarkan,” ungkap Hartono.
Hartono berharap pemerintah, baik pusat maupun daerah, dapat turun tangan untuk menstabilkan harga jagung.
“Kami berharap harga jagung bisa dipatok antara Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Tahun lalu saja mencapai Rp9.000, tapi kenapa sekarang jadi Rp4.400? Apakah ini ada pengaruh dari situasi politik?” tanya Hartono.
Dari segi biaya produksi, Hartono memperkirakan modal yang dikeluarkan untuk satu petak sawah mencapai Rp6 juta, sementara hasil yang didapatkan hanya sekitar 1 ton jagung, dengan penghasilan Rp4,4 juta.
“Dengan harga yang sekarang, biaya produksi belum kembali, sehingga banyak petani yang merugi,” pungkasnya. [fiq/ian]






