Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2024 siap digelar dengan tema dan motif yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Beragam motif batik lokal dari Bumi Blambangan akan menjadi sajian utama, menambah kekayaan budaya daerah.
Tahun ini, BBF mengusung tema menarik dengan menampilkan motif batik khas Banyuwangi, lawasan ‘Jenon’, yang kaya makna. Perhelatan ini semakin istimewa dengan latar futuristik di Hutan de Djawatan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring.
“BBF ini bukan sekadar acara fashion, tetapi juga upaya untuk melestarikan batik Banyuwangi dan mendorong pertumbuhan ekosistem industri batik lokal,” ujar Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah.
Sugirah menambahkan bahwa Banyuwangi telah konsisten menampilkan batik lokal selama sebelas tahun terakhir, menjadikan BBF sebagai ajang regenerasi dan pengembangan potensi penggemar serta pelestari batik daerah.
“Batik adalah warisan bangsa yang harus kita lestarikan. Dengan BBF, kami berharap regenerasi batik Banyuwangi terus berlanjut,” katanya.
Sebelumnya, BBF telah mengangkat berbagai motif batik lokal, seperti Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal, dan Jajang Sebarong.
Dedy Wahyu Hernanda, Ketua Perkumpulan Pengerajin dan Pengusaha Batik Sekarjagad Blambangan, menjelaskan bahwa motif batik “Jenon” memiliki filosofi khusus. Bentuknya menyerupai belah ketupat, yang dalam bahasa lokal melambangkan pengakuan akan kesalahan, serta mengandung makna ‘Sejatining Nur’ atau cahaya sejati.
BBF 2024 akan berlangsung selama dua hari, 18-19 Oktober 2024, dengan catwalk utama di Hutan de Djawatan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. [rin/beq]






