Surabaya (beritajatim.com) – Calon gubernur Jawa Timur, Tri Rismaharini, menjawab dilema mahasiswa Surabaya yang banyak putus kuliah karena bekerja dan pasrah disuruh orangtua pergi ke luar negeri.
Risma mengatakan bahwa kuliah sambil bekerja bukan halangan serta bisa dilakukan bersamaan, seperti dirinya di masa lampau ketika di Belanda.
“Aku dulu kuliah ya sama kerja, bahkan aku waktu di Belanda aku menjadi tukang cuci piring. Kenapa harus malu? bener aku dulu kuliah sambil kerja,” kata Risma saat menjawab pertanyaan dari mahasiswa di sela-sela acara Deklarasi Banteng Lawas di Surabaya, ditulis Kamis (10/10/2024).
Risma mengaku bahkan saat menjadi mahasiswa arsitek, dirinya berkeliling mencari kerja dan uang tambahan dengan cara menawarkan jasa desain bangunan.
“Bahkan saat kuliah itu aku bisa beli sepatu ‘Bally’ sendiri. Aku arsitektur bisa gambar desain rumah, aku datangi yang mbangun-mbangun itu. Bertanya butuh gambar ya? Oh enggak. Dapurnya ada? Belum. Ya sudah saya desainkan, lumayan Rp25 ribu (nilai rupiah saat itu),” ucapnya.
Lebih lanjut, Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 3 itu juga turut menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa asal Sampang. Mahasiswa itu mengatakan di Sampang banyak orangtua menyuruh anaknya kerja ke luar negeri daripada kuliah.
“Jadi begini yang harus dilakukan untuk mengejar IPM (Indeks Pembangunan Manusia) itu tadi tidak bisa tolak ukurnya hanya Sarjana,” ungkap Risma.
Dia mengungkapkan untuk mengejar IPM kadang butuh waktu cepat. Jika semakin lama menunggu, kata dia, konsekuensinya pengangguran semakin banyak. Sehingga perlu adanya fast tracking, pembelajaran khusus bidang teknis.
“Saya pernah mengasih beasiswa 1 tahun kepada anak untuk belajar di bidang khusus di IT. Ternyata setelah dia lulus 1 bulan dan saya bulan ke-3 mencari sudah tidak ada. Dia sudah bekerja ke mana-mana,” ujar mantan Wali Kota Surabaya 2 periode itu.
Sehingga, menurut dia, tidak selalu beasiswa dimaknai harus lulus Sarjana. Pelatihan atau pembelajaran di bidang khusus itu jauh lebih penting untuk saat ini.
“Jadi ada yang memang begitu, ini fast tracking 1 atau 2 tahun langsung bisa diserap oleh pekerjaan. Seperti kemarin, lulusan perawat kami training untuk bisa menguasai bahasa asing dan hasilnya dia langsung bisa diterima kerja,” tandas Risma. [ram/beq]






