Saya sering curiga: seorang steward pertandingan sepak bola sesungguhnya tidak suka sepak bola. Bayangkan: mana ada penggemar sepak bola yang betah diminta berdiri menghadap dan mengawasi penonton di tribun selama pertandingan berlangsung. Mereka bisa melihat penonton bersorak-sorai merayakan gol tanpa mereka sendiri tahu prosesnya atau diperkenankan ikut merayakannya.
Dalam prasangka saya, satu-satunya alasan mereka menekuni profesi (kalau memang bisa disebut profesi) itu adalah karena upah yang diterima.
Di Inggris, menurut situs uk.jooble.org, upah seorang steward adalah 11,25 poundsterling per jam, atau sekitar Rp 228 ribu. Sementara untuk di Indonesia, saya pernah diberitahu, upah yang diterima kurang lebih Rp 150 ribu per pertandingan. Lumayan.
Namun prasangka saya meleset. Steward yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti ‘pelayan’ adalah bagian dari prosedur manajemen keamanan pertandingan. Ini bukan sekadar urusan cinta terhadap sepak bola. Steward memiliki posisi strategis dalam pertandingan, dan dalam kondisi tertentu, ini bisa menjadi pekerjaan paling rawan yang membutuhkan keterampilan praktis tentang pertolongan pertama.
Seorang steward harus menyediakan dirinya untuk membantu siapa saja di stadion saat semua orang menanti gol tercipta. Dalan pertandingan Liga Primer Inggris Musim 2022-23 antara Brentford dengan Newcastle United di Gtech Community Stadium, dua steward Jake Mead-Baker and Abdul Hakazada memberikan napas buatan kepada seorang penonton bernama Raymond Harris yang terkena serangan jantung.
Nyawa Harris terselamatkan hari itu. Direktur Brentford Nity Raj menyebut betapa pentingnya pelatihan pernapasan buatan untuk seluruh personel klub tersebut. “Apa yang terjadi membuktikan betapa Jake dan Abdul membuat perbedaan terhadap hidup Raymond dalam hitungan menit,” katanya.
Di lain waktu, seorang steward harus memiliki kesabaran setingkat kaum brahmana untuk menerima hinaan penonton seperti yang dialami steward Stoke City. Jason Vernon, seorang penonton, mengucapakan kata-kata penuh kebencian rasial terhadap sang steward. Vernon belakangan didenda tiga ribu poundsterling dan dilarang menonton langsung selama empat tahun.
Bukan hanya kekerasan verbal. Beberapa kali kasus kekerasan fisik dialami steward yang mendadak diserang penonton. Seorang steward Wallsall di Bescott Stadium yang mendadak diserang seorang fans Leicester City berusia 17 tahun.
Terakhir di Bandung, seorang stewatd menjadi sasaran kekeraan penonton usai pertandingan Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta, Senin (23/9/2024). Persib menang 2-0, namun bek Persib Nick Kuipers tak urung mengeluh. “Setelah membawa juara ke Bandung dan mengalahkan Persija, bagaimana bisa tidak aman di stadion sendiri?” katanya dalam story instagramnya.
Tak ada versi tunggal soal kekerasan di Bandung maupun kekerasan terhadap steward di mana pun. Selalu ada versi ‘saya’, ‘dia’, dan ‘mereka’. Namun kekerasan tetaplah kekerasan: melukai sepak bola itu sendiri.
Maka saat Kapten Persebaya Bruno Moreira dan Kapten Dewa United Egy Maulana Vikri memberikan mawar kepada para steward sebagai simbol ‘Football for Humanity’ sebelum pertandingan melawan Dewa United, di Gelora Bung Tomo, Jumat (27/9/2024), kita menangkap pesan terang benderang di sana.
“Steward adalah bagian penting dalam penyelenggarakan sepak bola bola tanah air. Kita harus bekerja sama dan mendukung steward melaksanakan tugasnya dengan baik,” demikian pesan akun resmi Persebaya Surabaya di X.
Pertandingan berakhir dengan skor 0-0. Persebaya tetap tak terkalahkan hingga pekan ketujuh dan berada di pucuk klasemen. Namun di luar hasil pertandingan, manajemen Persebaya jeli melihat momentum untuk mengampanyekan sepak bola Indonesia yang lebih baik.
“Mawar kepada steward menjadi dukungan moril kepada steward untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Bonek dan panpel Persebaya sepakat untuk menjaga keamanan mereka,” tulis akun resmi tersebut.
Mawar hanya simbol. Seperti kata Bung Karno: ‘bunga mawar tidak memprogandakan keharumannya sendiri’. Maka setiap pertandingan yang digelar di Surabaya seharusnya menjadi bunga mawar yang mewangi bagi sepak bola Indonesia. Tidak boleh berhenti pada kampanye saja. Namun setiap aspek pertandingan sudah seharusnya diperhatikan dengan serius agar kisah kerusuhan hanya menjadi dongeng Persebaya pada masa lampau. [wir]






