Bondowoso (beritajatim.com) – Musim hujan di wilayah Kabupaten Bondowoso pada tahun ini diprediksi datang lebih awal. Jika tahun sebelumnya hujan turun pada Desember, tahun 2024 ini, akhir September sudah nyaris saban hari turun hujan.
Fenomena ini pun disambut oleh petani cabai di Kabupaten Bondowoso untuk memulai persemaian. Salah satunya dilakukan oleh Suliyanto, petani cabai asal Desa Kretek, Kecamatan Taman Krocok, Kabupaten Bondowoso.
“Akhir September ini sudah mulai turun hujan. Diprediksi, Oktober sudah hujan penuh. Jadi kami mulai menyemai cabai untuk bisa tanam lebih awal,” katanya kepada Beritajatim.com, Sabtu (28/9/2024).
Masa tanam hingga panen cabai memerlukan ketersediaan air yang cukup. Sedangkan mayoritas lahan pertanian di Desa Kretek adalah tadah hujan.
“Kami mengandalkan hujan untuk pengairan lahan maupun sawah. Dan cabai rawit adalah tanaman andalan di desa Kretek dan banyak diminati pasar Jakarta dan Sumatera,” sebut pria yang karib disapa Suliwa ini.
Ia memiliki 2 petak persemaian cabai dengan ukuran 16×23 meter. Mulai awal persemaian hingga bisa dijual, membutuhkan waktu sekira 45 hari.
“Biasanya jika kami tanam bulan Februari, semainya dimulai sejak Desember. Tapi karena hujan sepertinya turun di Oktober, semoga kami sudah bisa tanam cabai Desember tahun ini,” bebernya.
Dengan 2 petak lahan minimalis itu, Suliwa bisa menghasilkan hingga 2 juta bibit cabai unggul.
“Saya membuat varietas unggulan sendiri. Namanya C-41. Harga jualnya sama dengan yang buatan pabrik, Rp100 ribu per 1.000 bibit,” sebutnya.
Namun bagi petani yang lebih telaten, bisa membeli biji cabai dan menyemai sendiri. Kemasan 10 gram berisi 2.500 biji, dijualnya seharga Rp25 ribu.
“Sedangkan biji cabai pabrikan harganya Rp50 ribu dengan kemasan yang sama,” papar Suliwa. (awi/ian)






