Jakarta (beritajatim.com) – Badan Anggaran (Banggar) DPR mengingatkan pemerintah agar segera mengendalikan laju deflasi. Sebab, deflasi yang tak terkendali dapat memicu daya beli semakin melemah.
“Sekali lagi kita ingin mengingatkan, terjadinya fenomena deflasi yang sudah kita alami dalam empat bulan berturut-turut, semenjak bulan Mei 2024, dikhawatirkan hal ini mengindikasikan terjadinya penurunan daya beli masyarakat yang kemudian berdampak terhadap pelemahan ekonomi,” ujar Ketua Banggar DPR, Said Abdullah, melalui keterangan tertulis diterima beritajatim.com, Kamis (19/9/2024).
Said menilai pemerintah perlu memperkuat kolaborasi kebijakan dengan Bank Indonesia (BI). Sehingga lahir kebijakan yang tepat dan terukut pada sektor fiskal, moneter, dan riil.
Terkait inflasi, Said mengatakan sejauh ini dapat terkendali di angka 2,5 persen. Kondisi ini lebih baik dibandingkan laju inflasi negara-negara lain.
“Di saat negara lain masih berjuang menurunkan angka inflasi, kita sudah bisa mencapai angka inflasi normal sama seperti saat sebelum terjadinya krisis,” kata dia.
Said juga menyoroti target pertumbuhan ekonomi 2025 yang disepakati sebesar 5,2 persen. Menurut dia, target tersebut lebih baik dibandingkan dengan prediksi sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia (World Bank/WB), Organisation for Economic Co-operations and Development (OECD).
Dia juga menilai ekonomi Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat untuk menjadi negara maju di 2045. Banggar dan Pemerintah telah menetapkan Kerangka Kerja yang kokoh dalam asumsi dasar ekoomi makro 2025.
Namun demikian, Said mengingatkan pemerintah agar bisa segera lepas dari jebakan pertumbuhan ekonomi 5 persenan untuk lima tahun ke depan. Dalam satu dekade terakhir, jebakan tersebut telah menghantui perekonomian nasional.
“Hal ini penting untuk diingatkan, jangan sampai kita masuk dalam jebakan yang sama dalam lima tahun ke depan. Selain itu, kita ingin memastikan mesin ekonomi kita berada dalam kondisi yang prima untuk bisa tumbuh lebih baik ke depannya,” kata dia.
Lebih lanjut, Said juga mengingatkan mengenai nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir yang membuat perekonomian nasional tidak berdaya. Asumsi 2025, pemerintah mengusulkan kurs Rp16.100 per dolar Amerika Serikat (AS) dan Banggar DPR mendorong agar lebih rendah di level Rp15.900 per dolar AS, hingga akhirnya disepakati Rp16 ribu per dolar AS.
“Kita yakin, dengan kebijakan transformasi struktur ekspor yang lebih bernilai tinggi, dan menguatkan investasi, serta kebijakan bauran sistem pembayaran yang beragam akan lebih membuat rupiah semakin kuat,” ucap dia. [beq]






