Jember (beritajatim.com) – Kubu pengusung calon bupati Muhammad Fawait dan calon wakil bupati Djoko Susanto siap berkampanye di kampus dalam pemilihan kepala daerah Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Kami coba akan berkomunikasi dan berkoordinasi dengan tim dan kampus, apakah berkenan atau tidak. Kami melihat situasi dan perkembangan yang ada,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember Ahmad Halim, Kamis (12/9/2024).
Terbukanya ruang berkampanye di kampus ini dikarenakan Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan dua mahasiswa Universitas Indonesia, Selasa (20/8/2024). Hakim MK M Guntur Hamzah di persidangan menyatakan, pengecualian larangan kampanye di kampus dimaksudkan untuk memberikan kesempatan civitas akademika menjadi lokomotif penyelenggaraan kampanye.
“Kami ambil hikmahnya. Kampus punya pandangan tentang masing-masing calon. Dengan adanya kampanye di kampus, memungkinkan ruang dialektika. Minimal ada alternatif pilihan akhirnya terbuka di ruanh ilmiah,” kata Halim.
Presiden Rumah Cinta Dima Ahyar sepakat juga untuk menggunakan kesempatan berkampanye dalam kampus. Rumah Cinta adalah salah satu relawan pemenangan Fawait-Djoko. Sementara Dima sendiri adalah fungsionaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jember.
“Teknisnya seperti apa, kami akan cari informasi lebih lanjut. Kami berharap ada pendidikan politik dan sosialisasi visi-misi. Sekaligus menguji apakah yang kami perjuangkan sebagaimana gambaran visi dan misi itu seperti apa dinilai,” kata Dima.
Jumlah pemilih di kampus tidak sebesar jumlah pemilih di komunitas lain, karena rata-rata mahasiswa bukan warga Jember. Namun Dima menilai itu bukan persoalan. “Suara kampus didengar banyak telinga dan diperhatikan banyak mata, melalui instrumen-instrumen media. Kita harap ini tetap bisa diketahui sebanyak mungkin pihak,” katanya.
Sementara itu untuk menyosialisasikan rekam jejak kinerja Muhammad Fawait yang selama 10 tahun terakhir menjadi anggota DPRD Jawa Timur, personel Rumah Cinta berkeliling dan bertemu masyarakat secara simultan.
“Kami menemui dan menyampaikan kepada mereka, di daerah-daerah di mana mungkin Gus Fawait pernah menyapa, menyerap aspirasi mereka, dan mengawalnya sampai jadi sesuatu yang seperti mereka harapkan. Itu diingatkan kepada mereka,” kata Dima.
“Kami merefresh memori. Kadang-kadang orang amnesia atau lupa,” kata Dima. [wir]






