Magetan (beritajatim.com) – Dua bulan setelah dipasang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, pagar di pintu air selatan Telaga Sarangan hilang, diduga dicuri. Padahal, tujuan utama pemasangan pagar besi itu untuk menjaga keselamatan bersama.
Sayangnya, banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya keberadaan pagar tersebut. Saat pertama kali dipasang, pagar ini sempat viral di media sosial dan menerima reaksi negatif dari netizen pada bulan Juni.
Namun, BBWS tetap melanjutkan pemasangan pagar di area yang dianggap rawan, terutama di sekitar pintu air, hingga selesai. Mirisnya, awal bulan ini, beberapa bagian pagar ditemukan hilang.
Eko Yulianto, Petugas Operasi dan Pemeliharaan (O & P) Sumber Daya Air (SDA) III BBWS Bengawan Solo, menyatakan bahwa kerusakan pada pagar diduga kuat akibat tindakan vandalisme. “Banyak besi yang lepas, sehingga kami harus melakukan perbaikan. Kami menduga ini ulah vandalisme dari pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya, Rabu (11/9/2024).
BBWS Bengawan Solo sebelumnya memasang pagar dengan tinggi 2,25 meter dan panjang 85 meter di sekitar area pintu air sisi selatan Telaga. Meskipun tidak semua area telaga dipagari, kerusakan yang terjadi memaksa pihak BBWS untuk segera memperbaiki pagar yang rusak.
Beberapa bagian besi ditemukan hilang dan bengkok, bahkan area depan pintu air mengalami retakan semen. Padahal, BBWS telah memasang papan himbauan agar pagar tidak dirusak karena merupakan bagian dari sarana dan prasarana penting BBWS.
“Kami harus memperbaiki lagi, karena ada 19 batang besi yang hilang dari pagar,” ungkap Eko. Kejadian ini sangat disayangkan, karena niat baik untuk menjaga keselamatan justru dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Pemasangan pagar di area pintu air Telaga Pasir bertujuan untuk mencegah kecelakaan, mengingat area tersebut berbahaya dan dekat dengan jalan umum yang sering ramai dilalui kendaraan. Lokasi ini juga sering dijadikan tempat parkir sembarangan oleh pengunjung.
Sementara beberapa orang duduk atau berfoto di sekitar area rawan. Kondisi talud yang pendek membuat lokasi tersebut semakin berbahaya jika ada pengunjung yang terjatuh.
“Dengan talud yang pendek dan area yang berbahaya, kami berharap setelah perbaikan ini masyarakat dan wisatawan bisa bersama-sama menjaga pagar ini demi keselamatan bersama, bukan malah merusaknya,” tutup Eko. [fiq/beq]






