Pacitan (beritajatim.com) – Beberapa hari terakhir, kembali ramai prediksi akan terjadinya gempa besar (megathrust) di Indonesia. Disebutkan BMKG mengeluarkan kajian potensi gempa megathrust yang berkekuatan cukup besar dapat melanda secara tiba-tiba.
Jika dilihat dari data penelitian, terdapat dua titik yang jadi sorotan. Titik tersebut Meliputi Seismic Gap Megathrust di Selat Sunda (M8,7) dan Megathrust di Mentawai-Siberut (M8,9).
Rilis gempa di kedua titik ini dikabarkan tinggal menunggu waktu dikarenakan belum tercatat peristiwa gempa dengan kekuatan cukup besar selama ratusan tahun. Kepanikan akan gempa tersebut juga sampai wilayah Pacitan, mengingat jika gempa Megathrust di Selat Sunda sampai terjadi, Pacitan termasuk satu dari sekian wilayah di Jawa yang akan terdampak. Tidak hanya gempa, tapi juga tsunami.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan pun memberikan penjelasan terkait munculnya kembali pembahasan potensi gempa zona megathrust yang disebut-sebut “tinggal menunggu waktu”.
”Karena gempa sendiri hingga kini belum dapat diprediksi baik waktu, maupun lokasinya. Artinya bukan berarti segera akan terjadi dalam waktu dekat, bahkan namanya potensi, bisa juga tidak terjadi sama sekali” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Radite Suryo Anggono
Pacitan sendiri diketahui merupakan wilayah yang aktif terjadi gempa bumi, sebenarnya memiliki potensi gempa bumi yang dapat terjadi kapan saja dan dalam berbagai kekuatan. Akan tetapi, Radite memberikan pencerahan, bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan terjadinya gempa.
“Kalau potensi, Pacitan sendiri bahkan bunya, akan tetapi oleh karena belum ada teknologi yang mampu memprediksi, maka BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi kapan terjadi gempa bumi,” tambahnya
Informasi potensi gempa megathrust yang berkembang saat ini pun bukanlah prediksi atau peringatan dini seolah–olah akan terjadi dalam waktu dekat, sehingga tidak perlu dimaknai secara keliru
“Masyarakat bisa beraktivitas normal seperti biasa, termasuk berwisata. Yang penting tetap waspada dan memperkaya informasi terkait mitigasi bencana” tuturnya.
Untuk keperluan antisipasi atau mitigasi, BPBD Jatim sendiri telah memasang alat sirine dan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) di sejumlah titik wilayah pesisir pantai selatan, termasuk Pacitan. Selain itu, BPBD Pacitan juga membentuk sebanyak mungkin Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di tingkat desa akan risiko bencana yang mungkin terjadi.
Contoh desa yang sudah ada bisa dicek di Desa Hadiwarno dan Sidomulyo, Ngadirojo dan Desa Sumberejo, Sudimoro. Kemudian, Kelurahan Ploso, Sidoharjo dan Desa Kembang, Kecamatan Pacitan (kota).
“Tentu kami juga tidak diam saja, pertama kami pasang sejumlah alat seperti sirine dan sistem Early Warning Sistem. kemudian pembentukan Desa Tangguh Bencana do sejumlah titik. Dan sosialisasi rutin ke lapangan atau masyarakat. ini sebagai bentuk kewaspadaan dan langkah-langkah antisipatif untuk meminimalisir dampak bencana dimulai dari lingkungan di sekitar kita,” pungkasnya [sul/beq]






