Malang (beritajatim.com) – Geofisika Universitas Brawijaya, Prof. Drs. Ir. Adi Susilo, M.Si., Ph. D., menyebut bahwa potensi gempa megathrust sepanjang jalur tumpukan memang ada. Namun, daerah Jawa Timur berada pada sebuah lempeng tua, yang artinya terkena sedikit saja, gempa akan terjadi dengan kekuatan kecil.
“Sedikit saja kena singgung secepatnya terjadi gempa sehingga gempanya kecil-kecil sudah keluar duluan dan tidak terlalu membahayakan,” ujarnya.
Sampai sejauh, pakar UB ini menyebut, gempa di Jawa Timur biasanya terjadi itu sekitar Magnitudo 6,1 hampir tidak sampai Magnitudo 7. Hal itu mengindikasikan bahwa terjadinya gempa itu terjadi pada titik-titik tertentu saja.
“Biasanya gempa di Jawa Timur akan ada di sebelah tenggaranya Malang atau sebelah selatan Lumajang yang paling banyak,” jelansya.
Namun, Prof Adi juga mengatakan, gempa megathrust memang akan menyebabkan banyak kerusakan pada daerah-daerah tertentu. Oleh sebab iu, perlu disiapkan mitigasi bencana terhadap masyarakat setempat sehingga dapat mengurangi risiko yang dihadapi.
Diketahui sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan soal potensi gempa dari dua megathrust yang lama tak melepaskan energi besarnya. Megathrust adalah zona pertemuan antar-lempeng tektonik Bumi yang berpotensi memicu gempa kuat disertai dengan tsunami.
Daerah megathrust diprediksi bisa ‘meledak’ secara berulang dengan jeda hingga ratusan tahun. Megathrust di Indonesia dikaitkan setelah kejadian gempa besar dengan Magnitudo 7,1 yang memicu tsunami di Jepang yang bersumber dari Megathrust Nankai, pada Jumat (8/8/2024) lalu.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyinggung kekhawatiran ilmuwan Indonesia soal seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. BMKG memperkirakan, Megathrust Selat Sunda bisa memicu gempa dahsyat dengan kekuatan maksimal M 8,7 dan Megathrust Mentawai-Siberut M 8,9.
Di sisi lain, ilmuwan Geofisika UB Brawijaya, Prof. Adi Susilo, M.Si., Ph. D., menyebut bahwa gempa megathrust memang berpotensi tetapi bukan berarti ada prediksi. Artinya, pembacaan BMKG masih sebatas potensi saja.
“Potensinya ada tapi kalau bicara berdasarkan paper atau jurnal kalau gempanya terjadi secara berbarengan akan berpotensi menghadirkan gempa yang begitu besar sekitar Magnitudo 8, dengan nantinya potensi tsunami 20 meter,” ujar Prof Adi Susilo.
Namun, jika luasan gempanya kecil atau sepotong kawat per titik-titik tidak dari jalur tumbukan maka kemungkinan terjadinya akan kecil. Oleh sebab itu, Prof Adi menghimbau agar masyarakat umum tidak terlalu khawatir dan jangan terlalu paranoid terhadap hal tersebut.
“Intinya tetap bekerja, saudara kita yang di pantai itu juga tetap bekerja sebagaimana biasanya. Jangan sampai gara-gara itu nanti pengunjung tidak berani datang sehingga ekonomi juga akan terpuruk,” tutup ketua program studi teknik geofisika UB ini. (dan/but)







1 Komentar
Prediksi manusia biarpun sekelas professor pun tidak akan mampu melawan kuasa-Nya