Bondowoso (beritajatim.com) – Kopi asal Kabupaten Bondowoso sudah dikenal sejak dulu. Geliat perdagangan kopi mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.
Bahkan ada distributor di Kabupaten Bondowoso yang ekspor kopi di 16 negara hingga merambah banyak wilayah di pasar domestik.
Hal itu dialami oleh Rikiyan Ades Zulkarnain, Owner Distributor Kopi Bondowoso asal Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin.
Dia menceritakan riwayatnya dalam usaha perkopian di Kabupaten Bondowoso sejak tahun 2016 mulai dari belajar bekerja di gudang kopi.
“Tahun 2017 mencoba bekerja ke orang-orang, lalu belajar dagang sendiri. Sampai saya sekolah kopi keliling Indonesia untuk belajar lebih dalam tentang kopi,” paparnya kepada beritajatim.com.
Kemudian Ades belajar memproduksi dan menjual specialty coffe sejak tahun 2018.
“Untuk penjualan pasar domestik ke tanah merah, Malang, Bandung hingga Jakarta ke coffe shop,” sebutnya.
Lantas di tahun 2019, Ades berhasil ekspor ke 16 negara untuk mengangkat branding RAZ Specialty Coffe.
“Ekspor mulai ke Swedia, Korea, Jepang, Malaysia, dan beberapa negara eropa. Total 16 negara termasuk jual roasted ke Amerika,” paparnya.
Untuk ekspor green Bean saban tahun bisa mencapai 60 ton atau kisaran omzet Rp 6 miliar. Ades mematok margin keuntungan kisaran 8 persen.
“Sedangkan ekspor roasted coffe kemasan 200 gram sekali bungkus 50 pack ke Dubai dan negara Timur Tengah,” tuturnya.
Ades menjual kopi Arabika Green Bean kisaran Rp 115 ribu per kilogram. Sedangkan roasted per 200 gram harga Rp 120 ribu – Rp 180 ribu.
“Tergantung varietas dan jenis kopinya. Di Bondowoso saja jadi 16 jenis dengan harga yang berbeda,” ucapnya.
Menurutnya, usaha kopi Bondowoso yang dijalaninya dari hulu ke hilir. Tata niaga ini menyerap banyak tenaga kerja.
“Mulai dari hulu yaitu pekerja petik kopi, lalu bagian pencucian dan penjemuran hingga pemilahan serta pengemasan kopi green Bean dan roasted. Kopi mensejahterakan masyarakat Bondowoso,” aku Ades. (awi/ted)






