Malang (beritajatim.com) – Wawan Sobari, SIP., MA., Ph.D., pakar politik Universitas Brawijaya (UB) menyebut Abah Anton dan Wahyu Hidayat merupakan dua sosok yang menarik karena top of mind keduanya tinggi. Hal itu mengacu pada survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang relatif independen.
“Kalau kita lihat dari survei, tapi saya tidak tahu ya survei ini siapa yang bayar, tapi Lembaga Survei Indonesia (LSI) relatif independen sudah teruji. Abah Anton ini menarik karena top of mindnya masih paling tinggi di antara kandidat yang lain. Jadi Abah Anton 20,6% di survei LSI ini angka bagus,” ungkap Wawan, Jumat (2/8/2024) kepada beritajatim.com.
Menurut dosen jebolan S3 Politics and Public Policy Flinders University, Australia ini, jika nama Abah Anton disimulasikan dengan semi terbuka maka angkanya bisa lebih naik. Sementara itu, PJ Walikota Malang, Wahyu Hidayat, juga dipandangnya sebagai tokoh menarik, meski secara hasil survei sedikit jauh dengan Abah Anton.
“Menariknya Abah Anton ada persoalan tafsir hukum terkait hak politiknya. Itu kemudian menjadi harus hati-hati sekali terkait dengan status hak politiknya,” jelas pakar politik ini.
Dijelaskan Wawan, survei LSI terhadap masyarakat di kota Malang bernada paradoks. Jika dilihat survei LSI bahwa terkait figur sifat kepemimpinan apa yang harus dimiliki calon walikota, angka tertinggi 44,3% adalah jujur dan bersih dari korupsi.
“Namun ternyata Abah Anton yang pernah jadi terpidana korupsi angkanya masih tinggi. Ini sebenarnya sebagai satu bentuk paradoks yang di masyarakat melihat bahwa mereka menginginkan sifat pemimpin yang baik,” jelas Wawan.
Pangkat tertinggi yang diinginkan masyarakat adalah jujur dan bebas korupsi, tetapi kemudian mantan terpidana korupsi jadi punya elektabilitas tinggi. Menurut Wawan, hal itu disebabkan karena setelah jujur dan bersih dari korupsi yang dibutuhkan perhatian pada rakyat, Abah Antonlah yang bagus dalam segini ini.
“Abah Anton relatif dekat dengan masyarakat. Kita bisa melihat perkembangan survei berikutnya karena ini sudah dua bulan yang lalu,” ungkap dosen dengan kepakaran Politik dan Kebijakan Publik ini.
Wawan Sobari juga mengapresiasi tokoh muda dan kandidat muda yang berani maju untuk menjadi calon alternatif pada pilkada kota Malang 2024. Ada banyak nama seperti, Ahmad Fuad Rahman, Dwi Hari Cahyono, Ardantya Syahreza, Fairouz Huda, Rendra Masdrajad, maupun Ali Muntohirin.
“Menurut saya itu bagus sekalian memperkenalan diri ke warga kota Malang. Artinya gini melihat jangan kondisi saat ini, tapi 5 tahun ke depan mereka sudah jauh punya jejarin yang kuat mereka juga sudah matang berpolitik, mereka punya gagasan yang diimplementasikan di dalam kerja politik dan sosial,” jelasnya.
Wawan melihat kehadiran anak muda ini dalam bukan hanya dalam kondisi saat ini, melainkam dilihat 5 tahun ke depan. Mereka bisa menjadi alternatif bagi warga Malang punya banyak pilihan.
“Tinggal kemudian nanti, bagaimanapun karena undang-undang Pilkada kita itu menuntut bahwa pencalonan itu memang lewat partai politik. Kita sudah pengalaman di banyak tempat yang menang itu dari Parpol. Pilihan kandidat baru ini, saya rasa harus diusung oleh partai politik mereka harus punya partai,” tutup Wawan saat di wawancara beritajatim melalui sambungan WhatsApp. (dan/ian)






