Jember (beritajatim.com) – Gagal menjadi calon bupati Jember, Jawa Timur, dari jalur perseorangan, Muhammad Jaddin Wajad yang juga dikenal sebagai keponakan Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman, meneteskan air mata.
Komisi Pemilihan Umum Jember memberikan waktu perbaikan bukti dukungan sebanyak 167.856 berkas kepada Jaddin untuk menggantikan bukti dukungan yang tidak memenuhi syarat setelah diverifikasi faktual, pada 13-17 Juli 2024.
“Kami sudah berupaya maksimal. Mereka (KPU) minta data baru. Kami benar-benar bekerja luar biasa. Semua resource sudah kami gunakan semaksimal mungkin. Alhamdulillah, kami sudah bisa memenuhi,” kata Jaddin yang berpasangan dengan pensiunan aparatur sipil negara Pemkab Jember Arismaya Parahita ini, Kamis (18/7/2024).
Namun rupanya mengunggah seluruh bukti dukungan ke Silon (Sistem Informasi Pencalonan) KPU tidak semudah yang dibayangkan. Hingga tenggat pukul 24.00, Rabu (17/7/2024), tinggal 1.824 bukti dukungan yang belum berhasil diunggah. Dengan demikian, Jaddin dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk menjadi peserta pilkada.
“(Kecepatan akses) server mereka (KPU) naik turun. Jadi lemot juga. Akhirnya pada saat jam 00.00 (Kamis, 18//7/2024) sudah tertutup. Data yang kami proses unggah terhenti, tidak bisa masuk lagi. Padahal yang sudah ter-upaload 162 ribu bukti dukungan. Tinggal lima menit lagi ter-upload semua,” kata Jaddin.
Jaddin memberikan data yang tersisa kepada KPU Jember. “Tapi mereka menolak. Ya Allah, kok tidak ada penghargaannya sama sekali terhadap jerih payah kami. Padahal banyak orang yang sudah membantu kami, dan tidak ada satu pun dari orang-orang itu yang kami bayar. Seharusnya kami dikasih kesempatan. Kalau kemudian pada saat verifikasi administrasi ada kesalahan, ya silakan,” katanya, terisak.
Jaddin minta diberi toleransi. “Toh tinggal satu persen saja. Butuh waktu 5-10 menit untuk ter-upload semua,” katanya.
Jaddin terharu dengan perjuangan para pendukungnya. “Tidak saya bayar pun mereka tetap bergerak. Saya tahu sendiri perjuangan mereka. Mereka pakai biaya sendiri. Saya sudah bilang kepada mereka: ‘tidak usah begitu, saya tidak harus jadi bupati’. Tapi mereka tetap berjuang,” katanya.
“Di situ (hati) saya tidak bisa menerima perlakuan KPU Jember. Perjuangan orang-orang di bawah ini kok tidak dihargai? Itu saja sebenarnya,” kata Jaddin, masih dengan suara terisak.
Sejumlah pendukung Jaddin sudah meminta restu berunjuk rasa untuk memprotes KPU Jember. “Mereka benar-benar bekerja. Kok kayak begini hasilnya? Mulai kemarin kami mengalah. Temuan kami di lapangan juga banyak. Mereka sudah pada titik mengajak demo mulai kemarin. Tapi kami mengatakan jangan dulu. Tidak bagus kalau kayak begitu,” kata Jaddin.
Hendra Wahyudi, komisioner Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Jember, mengatakan, alasan mengkambinghitamkan lambatnya akses Silon KPU tidak bisa diterima. “Kalau lemot kan tidak mungkin berhari-hari. Tidak mungkin satu minggu sistem tidak bisa (diakses), wong kami juga update tiap hari,” katanya. [wir]






