Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua profesor dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Prof. Dr. Ir. Edi Susilo, MS., dikukuhkan dalam bidang ilmu sosiologi perikanan, sementara Prof. Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya, MSc., dikukuhkan pada bidang ilmu eksplorasi sumber daya ikan.
Prof. Edi Susilo, menyampaikan tentang Struktur Sosial Progresif-Integratif (S2PI), konsep untuk mengurangi kemiskinan nelayan di Indonesia. Menurutnya, struktur sosial tidak hanya mampu digunakan untuk menganalisis kondisi dan perkembangan masyarakat lokal, tapi bisa ditarik ke dalam analisis yang lebih makro.
“S2PI memberi arti bahwa masyarakat selalu mengalami perkembangan. Konstruksi struktur sosial yang dibangun memiliki keterkaitan antara ekologi, ekonomi, dan sosial sebagai landasan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya berbentuk lingkaran, harus diubah menjadi piramida,” ujar Prof Edi.
Piramida yang dimaksud berupa konsep tentang religiusitas. Pondasinya adalah religiusitas, yang paling atas adalah sosiologi. Menurut Prof Edi, jika kegiatan ekonomi manusia merusakkan ekologi maka kesalahan manusia ada dua.
Pertama, manusia tidak bersifat amanah sebagai wakil Allah swt di bumi untuk menjaga alam secara berkelanjutan. Sumber Daya Alam harus dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia saat sekarang, juga generasi mendatang. Kedua, jika kegiatan ekonomi manusia merusakkan ekologi, maka berpeluang mengalami kesulitan dalam kesejahteraan sosial.
“Harus ada sosial adaptor, dalam rangka struktur sosial integratif ini memberikan masukan pada pemerintah kita. Karena kalau tidak ada remnya bahaya. Sosiologi itu rem pembangunan dari negara,” ujarnya saat jumpa pers Senin (8/7/2024) di lobby belakang Rektorat UB.
Prof Edi Susilo menjadi Profesor aktif ke 23 di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) tersebut. Ia menjadi Profesor aktif ke 217 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 385 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya.
Sementara itu, Prof. Dewa Gede Raka Wiadnya, MSc., menjelaskan soal deskripsi spesies ikan melalui pendekatan morfologi, osteo-staining, otolith, yang dikombinasi dengan DNA barcoding menjadi alat yang komprehensif dan meyakinkan dalam proses identifikasi spesies ikan. Pertimbangannya karena ikan adalah kelompok vertebrata dengan jumlah spesies terbanyak.
Dijelaskan Prof Gede, Indonesia merupakan salah satu negara dengan spesies ikan terbanyak, selain Australia dan Brazil. Teknik ini bisa dijadikan standar dalam validasi spesies. Keraguan maupun kesalahan identifikasi terhadap spesies ikan sudah beberapa kali dilaporkan oleh ahli taksonomi dan eksplorasi sumber daya ikan.
Ada 4 teknologi yang digunakan untuk deposit spesimen, yaitu morfologi, osteo-staining, otolith (atau tulang telinga), dan DNA yang bisa diakses secara cepat. Hal itu membantu peneliti lain dalam melakukan validasi spesies yang sudah diidentifikasi maupun menjadi rujukan komparatif terhadap spesies yang akan diteliti.
“Naturalis sebelum saya itu mengatakan, bahwa untuk mengidentifikasi itu perlu morfologi. Morfologi eksternal dan analisis DNA sudah banyak digunakan peneliti lain, tulang telinga dan tulang di dalam tubuhnya ini yang baru saya gunakan,” ujar Prof Gede.
Melalui empat pendekatan tersebut, bisa untuk mendeskripsikan ikan terutama yang ada di Indonesia, meski ada kesempatan belajar ikan di LN, Prof Gede fokus ke Indonesia. Deskripsi spesies dilakukan melalui: teknologi DNA barcoding, osteo-staining, otolith, dan morfologi eksternal.
Kombinasi teknologi ini menjadi keunggulan utama dalam deskripsi spesies. “Saya siapkan spesimen, tempat penyimpanan , fotonya, diunggah di dalam kerjaaan yang disebut dengang Brawijaya Ichthyologicum Depository (BID) menjadi rumah yang tepat sebagai laman deposit maupun kurasi spesimen ikan dengan 4 teknologi,” ungkap Prof Gede.
Dijelaskan Prof Gede setiap spesimen dikurasi dan diunggah pada laman BID dengan kode aksesi yang unik untuk memudahkan penelusuran bagi peneliti selanjutnya. Kelemahan BID dibandingkan dengan Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) ialah pada statusnya sebagai laman kurasi yang belum resmi.

“Tantangannya saat ini, masih ada perdebatan karena belum lancar mengunggah di website. Kami sudah unggah 450 an sekuen ikan. Ada 1000 spesimen yang disimpan offline yang kami teliti bersama mahasiswa,” ujarnya.
Di sisi lain, MZB merupakan rujukan kurasi ketika spesies pertama kali dijelaskan (kurasi holotipe spesimen). BID lebih dikenal karena menyimpan topotipe spesimen (spesimen setelah kategori holotipe).
Saat ini, BID mengunggah 425 spesimen morfologis ke laman basis data ikan global dan 718 sequence DNA ke laman GenBank. Suatu laman BID sedang dipersiapkan untuk mengunggah spesimen ikan yang sudah teridentifikasi.
“Selain MZB, BID diharapkan menjadi laman pendamping dan rujukan pembanding bagi peneliti bidang eksplorasi sumber daya ikan,” ujarnya saat jumpa pers.
Sebagai informasi, Prof. Dewa Gede Raka Wiadnya sebagai Profesor aktif ke 22 di FPIK dan Profesor aktif ke 216 di Universitas Brawijaya serta menjadi Profesor ke 384 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh Universitas Brawijaya. (dan/beq]






