Bojonegoro (beritajatim.com) – Seorang maestro bidang seni tradisional di Kabupaten Bojonegoro, Djagad Pramudjito berpulang. Kepergiannya menghadap Sang Kholiq diketahui sekitar pukul 04.00 WIB, Minggu (30/6/2024).
Seniman yang konsen menjaga seni tradisi itu berpulang di usia 66 tahun di kediamannya Jalan Kapten Rameli 280, RT 01 RW 04 Kelurahan Ledok Kulon, Kabupaten Bojonegoro. Jasadnya dimakamkan di komplek pemakaman Islam setempat. Prosesi pemakaman diantar banyak pelayat hingga ke liang pusara.
Makam Mbah Djagad berada tidak jauh dengan makam sesepuh, Ki Andongsari serta Nyai Ireng. Andongsari maupun Nyai Ireng juga merupakan sosok penyebar agama Islam serta pelaku seni tradisional. Hal itu dibuktikan dengan pusaka peninggalannya berupa Kentrung.
Nyai Ireng merupakan ulama yang melakukan perjalanan bersama rombongan melalui jalur sungai Bengawan Solo. Dalam Manuskrip Padangan yang ditulis oleh Syekh Abdurrohman Klotok, tertulis Nyai Ireng binti Januddin Guyangan bin Kiai Kedong bin Kiai Saban bin Syekh Menak Anggrung Padangan.
Secara empiris, Nyai Ireng terhitung cicit langsung dari Syekh Menak Anggrung Padangan. Nyai Ireng adalah putri terakhir dari Kiai Januddin Guyangan, ulama dari Kasepuhan Padangan yang bermigrasi dan melakukan ekspansi dakwah di wilayah Paguyangan Rajekwesi (Guyangan Trucuk) pada periode 1700 M.
Pria yang dikenal sebagai seniman musik gergaji itu, merupakan penerus mereka dalam menjaga seni tradisional. Sejak aktif berkesenian sekitar era 80-an, dari tangannya ratusan karya sudah tercipta. Terutama seni musik. Sejak awal karirnya Djagad Pramudjito yang akrab disapa Mas Pram, itu membentuk kelompok seni dangdut.
Berjalannya waktu, kemudian dia membentuk seni musik orkestra bergenre etnik-tradisi yang diberi nama K2D Orkestra (Kelompok Kreatif dan Olahrasa Kesenian Tradisional). Dalam beberapa komposernya, Mas Pram sering menggunakan alat musik bambu.
Alat musik bambu yang identik dengan musik Oklik khas Bojonegoro itu diubahnya dalam berbagai ragam dan unsur tradisi. Seperti dalam aransemen gending-gending wayang tengul, terbang jidor, kentrung, dan seni tradisional sandur.
Selain mengekplorasi seni musik tradisional, Mas Pram juga aktif dalam pengembangan seni tradisional Sandur. Kesenian khas Kabupaten Bojonegoro yang lahir dan berkembang tidak jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo. Ia kemudian membentuk kelompok Sandur Sekar Sari.
Bersama seniman yang sudah menghadap Sang Kholiq terlebih dahulu, Masnun, Djagad Pramudjito bisa membangkitkan kembali kesenian Sandur yang pernah dilenyapkan era 1965. Kini, Sandur lebih bisa diterima semua kalangan.
Pertunjukan Sandur diubahnya berkembang mengikuti zaman dengan menonjolkan kemampuan teknik pertunjukan dan tidak menggunakan unsur magis. Meski begitu, akar seni tradisional yang ada hampir di semua wilayah yang dilewati Sungai Bengawan Solo itu tidak meninggalkan akar terbentuknya.
Hampir dalam kelompok seni di Bojonegoro, baik kelompok teater pelajar maupun umum pernah menggarap Sandur sebagai bagian dari seni tradisional yang erat dengan wadah untuk menyuarakan kritik-kritik sosial di masyarakat. [lus/but]







